Home

Fenomena Kemunculan Dua Pulau Baru “Cucu Krakatau” Pasca Erupsi, Ini Penjelasan Ahli

Oleh Amril Amarullah 25 Sep 2026 10:04 WIB Kategori: Aheadline

BANTEN (Mtimes) – Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan, kemunculan dua pulau baru di sekitar Gunung Anak Krakatau masih dalam tahap analisis dan kajian lebih lanjut. Informasi munculnya dua pulau baru tersebut didapat dari masyarakat yakni para pelaut dan relawan saat melakukan pelayaran serta pemotretan di Kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda.

Pulau baru tersebut terlihat di sektor barat laut dan tenggara Gunungapi Anak Krakatau, pada 22 September 2026. (sekitar 760 m dari pesisir tubuh Anak Krakatau sisi barat laut) dan sektor tenggara (sekitar 495 m dari pesisir tubuh Anak Krakatau sisi tenggara).

“Jika ditarik garis lurus, maka kedua pulau tersebut membentuk kelurusan berarah barat laut – tenggara, dengan kawah Gunungapi Anak Krakatau berada diantara keduanya. Kemunculan kedua pulau baru tersebut juga terlihat pada citra satelit sentinel dan diinterpretasikan berkaitan dengan erupsi menerus Anak Krakatau. Meskipun demikian, apakah kedua pulau tersebut merupakan pusat erupsi baru atau bukan, masih memerlukan data terbaru, analisis serta kajian lebih lanjut,” ujar Lana dalam keterangan tertulisnya.

Lana menjelaskan Anak Krakatau merupakan gunungapi aktif tipe A di Selat Sunda yang dipantau dari Pos PGA Kalianda, Lampung, dan Pasauran, Banten. Menurutnya, Krakatau memiliki sejarah erupsi besar dan tsunami pada 1883 serta 2018. Setelah erupsi berskala rendah berlangsung hingga Desember 2023, aktivitas erupsi kembali terjadi pada 2 Juli 2026.

“Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 3 September 2026,” jelas Lana.

Lalu, lanjut Lana bahwa pada tanggal 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama 25 jam hingga berakhir tanggal 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Erupsi menerus tersebut menghasilkan lava yang mengalir ke sektor barat laut – barat – barat daya.

Analisis data citra Satelit Sentinel tanggal 15 September 2026 memperlihatkan perluasan tubuh gunungapi Anak Krakatau sebesar 32, 8 Ha. Penurunan gejala aktivitas sejak erupsi menerus mengakibatkan status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) tanggal 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.

Mencermati kemunculan dua pulau baru tersebut, Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan menjauhi kawasan sekitar Anak Krakatau. Masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan wisatawan tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 2 km dari pusat erupsi Anak Krakatau.

“Masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan wisatawan tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 1 km dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara,” lanjutnya.

Lana meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya di sekitar kawasan tersebut terhadap ancaman bahaya lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi erupsi sekunder yang ditimbulkan oleh kontak panas lava dengan air laut.