JAKARTA (Mtimes) – Hari Batik Nasional 2026 diperingati pada hari Jumat, 2 Oktober 2026, dengan mengusung tema utama “Batik Berlayar” serta sub-tema “Bangga Berbatik”. Dilansir dari laman resmi kemenperin, puncak peringatan dipusatkan di Atrium Tunjungan Plaza 3, dengan rangkaian acara pameran dan festival ini berlangsung dari tanggal 30 September hingga 4 Oktober 2026.
Pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian Industrial Fest 2026 yang menghadirkan agenda pengembangan industri bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Kolaborasi itu juga mendorong pelestarian batik berjalan seiring dengan inovasi, teknologi digital, keberlanjutan, dan peningkatan daya saing industri.
Batik di mata masyarakat Indonesia dipandang bukan sekadar selembar kain, melainkan sebagai simbol identitas bangsa, kebanggaan budaya, serta pemersatu nusantara. Batik dipakai sebagai bentuk kecintaan pada budaya leluhur. Rasa bangga ini semakin kuat setelah UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2 Oktober 2009, yang kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional.
Pada awalnya, batik merupakan pakaian eksklusif milik keluarga raja dan bangsawan di lingkungan keraton (seperti Yogyakarta dan Solo). Kini, batik telah melebur dan bisa dikenakan oleh seluruh lapisan masyarakat dari berbagai kalangan.
Di era modern, batik tidak hanya dipakai untuk acara adat, pernikahan, atau kedinasan/kantor, tetapi sudah bertransformasi menjadi busana kasual dan fesyen harian yang modis bagi anak muda hingga orang dewasa.
Setiap motif batik (seperti Parang, Kawung, Mega Mendung, atau Tujuh Rupa) tidak dibuat secara sembarangan. Masyarakat memaknainya sebagai cerminan filosofi hidup, doa, kreativitas, serta kearifan lokal.
Bahkan, seperti dikutip dari https://ich.unesco.org/, pakaian dengan motif sehari-hari kerap dikenakan dalam lingkungan bisnis maupun akademis, sedangkan jenis-jenis batik khusus digunakan dalam perayaan pernikahan dan kehamilan, serta dalam pertunjukan wayang dan berbagai bentuk seni lainnya.
Kain-kain ini bahkan memegang peranan penting dalam ritual-ritual tertentu, seperti upacara pelarungan batik kerajaan ke dalam kawah gunung berapi. Batik dibuat oleh para perajin yang bangga akan karyanya; mereka melukis motif di atas kain menggunakan titik-titik dan garis-garis dari lilin panas yang berfungsi menahan pewarna nabati maupun jenis pewarna lainnya.
Hal ini memungkinkan perajin untuk mewarnai kain secara selektif dengan cara merendamnya dalam satu warna, meluruhkan lapisan lilin menggunakan air mendidih, lalu mengulangi proses tersebut jika diinginkan lebih dari satu warna. Keragaman motif yang luas mencerminkan berbagai pengaruh, mulai dari kaligrafi Arab, rangkaian bunga Eropa, dan burung feniks Tiongkok, hingga bunga sakura Jepang serta burung merak dari India atau Persia.
Sebagai seni yang kerap diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga, batik sangat erat kaitannya dengan identitas budaya masyarakat Indonesia; melalui makna simbolis yang terkandung dalam warna dan motifnya, batik menjadi wujud nyata kreativitas serta spiritualitas mereka.
Mengapa Batik Indonesia Mendunia
Bagaimana ceritanya batik bisa diakui sebagai warisan budaya dunia? Kita kembali pada 29 September 2009, saat United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pada sidang yang diikuti oleh 24 negara itu, UNESCO memutuskan untuk memasukkan teknik batik dalam daftar warisan budaya global.
Akhirnya, pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Hal ini membuktikan betapa budaya Indonesia diakui oleh dunia internasional.
Setelah diakuinya batik oleh UNESCO, Pemerintah Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan ini ditandai dengan terbitnya Kepres No. 33 Tahun 2009. Pemerintah ingin meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia supaya turut melestarikan, melindungi, dan mengembangkan batik Indonesia. Pemerintah juga menyarankan masyarakat untuk memakai pakaian batik setiap peringatan Hari Batik Nasional.
Sejarah Asal Kata Batik
Sejarah batik di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa. Pengembangan batik banyak dilakukan pada masa kerajaan Mataram kemudian masa kerajaan Solo dan Yogyakarta3. Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat menghadiri konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Batik merupakan teknik menggambar corak dengan menggunakan canting dan menggoreskan malam atau lilin pada kain sehingga menghasilkan sebuah kain bermotif. Kata “batik” sendiri secara etimologis berakar pada kata bahasa Jawa, “ambathik”. Kata “ambathik” merupakan gabungan dua kata, yaitu “amba” yang berarti lebar atau luas dan “nithik” yang berarti membuat titik. Jadi, gagasan awal kata batik adalah mengaitkan titik-titik menjadi suatu gambar pada sebuah kain yang lebar.
Motif pada kain batik pun dipengaruhi oleh budaya setiap daerah, letak geografis, status seseorang, geometri, maupun keadaan alam sekitar, seperti flora dan fauna. Kerangka gambar yang memadukan antara garis, titik, bentuk, dan “isen-isen” menjadikan satu kesatuan yang menghasilkan batik secara utuh. “Isen-isen” dalam motif batik adalah titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk mengisi ornamen-ornamen dari motif atau pengisi bidang di antara ornamen-ornamen tersebut.
Hingga kini setiap tanggal 2 Oktober, dirayakan sebagai Hari Batik Nasional yang merupakan bentuk apresiasi dan rasa bangga bangsa Indonesia terhadap batik sebagai salah satu simbol kebudayaan dan identitas nasional. Bagi Generasi Z, batik harus dimaknai bukan hanya pakaian tradisional, tetapi juga simbol penting dari identitas budaya Indonesia yang harus dipelihara dan diberdaya. (diolah dari berbagai sumber)