Home

Ubi Ungu dan Ube Jadi Tren Kuliner Kekinian, dari Latte hingga Dessert Estetik

Oleh User Admin 15 Okt 2026 06:01 WIB Kategori: Aheadline

JAKARTA (Mtimes) – Tren kuliner kekinian terus menghadirkan inovasi baru dengan memadukan bahan pangan menjadi sajian yang menarik. Salah satu yang mencuri perhatian adalah olahan umbi berwarna ungu yang kini hadir dalam berbagai menu, mulai dari latte, matcha, cheesecake, es krim, hingga aneka roti dan dessert.

Warna ungu yang khas menjadi salah satu daya tarik utama sajian tersebut. Selain memberikan tampilan yang estetik, perpaduan rasa manis dan tekstur lembut membuat olahan umbi ungu menarik bagi pencinta kuliner, khususnya generasi muda yang gemar mencoba menu baru di kafe maupun membagikan pengalaman kuliner melalui media sosial.

Salah satu menu yang mulai populer adalah matcha ube latte , minuman yang memadukan rasa khas matcha dengan cita rasa manis dari ube. Perpaduan warna hijau dan ungu menghasilkan tampilan berlapis yang menarik, sementara kombinasi rasanya menawarkan pengalaman berbeda bagi konsumen.

Tren ini turut menjadi sorotan dalam pemberitaan yang dikutip dari ANTARA mengenai perkembangan kuliner berbahan ube.

Selain minuman, bahan tersebut juga dikreasikan menjadi cheesecake, brownies, es krim, pancake, hingga berbagai jenis pastry. Di sisi lain, ubi jalar ungu lokal juga dapat diolah menjadi puding, donat, bolu, dan minuman berbasis susu.

Beragam kreasi ini menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk modern dengan nilai jual yang lebih menarik.

Meski terlihat serupa, ube dan ubi jalar ungu sebenarnya berbeda. Ube merupakan umbi dari spesies Dioscorea alata, yang dikenal di Indonesia sebagai uwi ungu. Sementara itu, ubi jalar ungu berasal dari spesies Ipomoea batatas. Perbedaan tersebut penting diketahui karena penggunaan nama ube pada menu tidak selalu berarti produk tersebut menggunakan ube asli.

Dari sisi gizi, ubi jalar ungu mengandung karbohidrat, serat, vitamin, mineral, serta antosianin, yaitu pigmen alami yang menghasilkan warna ungu dan memiliki aktivitas antioksidan.

Kandungan ini membuat ubi jalar ungu berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan dengan nilai tambah. Namun, kualitas gizi produk akhirnya tetap dipengaruhi oleh cara pengolahan serta tambahan gula, krimer, dan topping.

Meningkatnya minat terhadap olahan umbi ungu juga membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk berinovasi. Penggunaan bahan lokal dapat menjadi pembeda di tengah persaingan bisnis minuman dan dessert yang terus berkembang.

Dengan pengolahan yang tepat, bahan pangan yang sebelumnya identik dengan makanan rumahan dapat tampil lebih modern dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Pada akhirnya, tren olahan ubi ungu dan ube memperlihatkan bahwa inovasi kuliner tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal atau sulit ditemukan. Kreativitas dalam memadukan rasa, warna, dan penyajian dapat mengangkat bahan pangan menjadi menu yang menarik.

Bagi konsumen, penting untuk tidak hanya terpikat oleh tampilannya, tetapi juga memperhatikan komposisi bahan dan kandungan gula sebelum memilih makanan atau minuman. (alvuza faturrahman)