JAKARTA (Mtimes) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membenarkan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi masuk wilayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, sebaran asap tersebut terdeteksi melalui hasil analisis citra satelit terbaru.
“Tadi, kalau kita lihat dari citra sebaran asap wilayah Indonesia yang dirilis BMKG jam 10.00 tadi ya, itu hasil deliniasi terdeteksi asap yang sudah masuk ke wilayah Banten, maupun Jawa Barat, ataupun di Jakarta sendiri,” kata Guswanto.
Guswanto menjelaskan bahwa sebaran asap akibat dorongan angin yang menutupi wilayah Jawa bagian barat tersebut berasal dari titik kebakaran di Kalimantan dan Sumatera.
Ia menjelaskan, bila dilihat dari gambar yang citra satelit yang dikirimkan, itu kan ada dua, itu ada dua kelompok deliniasi. Deliniasi yang pertama yang garis putus-putus warna pink, itu adalah yang di kebakaran hutan yang dari Merauke ataupun Papua Selatan, itu hanya berkisar sampai Maluku.
Sedangkan yang di sekitaran Kalimantan sama Sumatra, itu tersebar di Kalimantan, Sumatra, sama yang sedikit bagian ke Banten, Jawa Barat maupun DKI.
Guswanto menambahkan arah angin di Indonesia secara umum bertiup dari timur-tenggara ke barat laut-utara, sehingga asap tersebut melintas di wilayah Jawa. Menurutnya, fenomena asap masuk ke atmosfer Jakarta ini baru terpantau hari ini.
“Kalau saya lihat baru dari seluruh citra satelit baru hari ini. Kemarin sore juga belum,” ucap Guswanto.
Masyarakat Perlu Waspada
Guswanto menambahkan masyarakat perlu mencermati tingkat konsentrasi kualitas udara mengingat arah pergerakan asap di Pulau Jawa terpantau bergerak ke arah tenggara hingga barat.
Menurut dia, pemantauan berkala sangat penting untuk memastikan apakah peningkatan konsentrasi asap di Jakarta benar-benar terjadi di permukaan tanah atau sekadar melintas di lapisan atmosfer atas.
“Dan yang paling penting itu menentukan risiko kesehatan adalah dengan melihat data kualitas udaranya, PM 2.5 atau air quality ya saat itu. Itu penting ya, jadi tolong juga dilihat air quality-nya,” tutur Guswanto.
Guswanto pun mengimbau masyarakat untuk mewaspadai risiko kesehatan dengan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan memperketat penggunaan masker, baik yang KN95, KF94, atau N95. Masker tersebut dinilai lebih efektif untuk menyaring partikel udara.
“Iya, pakai masker, batasi kegiatan di luar ruangan dulu, lebih baik apa, dibatasi dululah. Kalau olahraga, nge-gym aja di gym, tidak usah lari atau apa di luar ruangan ya, untuk mengurangi itu tadi, ya,” jelas Guswanto.