Home

PLN EPI dan FLEXIH Jajaki Produksi Hidrogen Rendah Karbon Berbasis Biomassa

Oleh Yudi Purwanto 21 Okt 2026 06:24 WIB Kategori: Aheadline

JAKARTA, (Mtimes) – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan FLEXIH Inc. menjajaki kerja sama pengembangan fasilitas produksi hidrogen rendah karbon berbasis teknologi gasifikasi plasma di Indonesia.

Kedua perusahaan mengawali penjajakan tersebut dengan menandatangani Perjanjian Kerahasiaan atau Non-Disclosure Agreement (NDA) di Centennial Tower, Jakarta.

Melalui kesepakatan ini, PLN EPI dan FLEXIH akan bertukar informasi untuk mengevaluasi potensi biomassa sebagai bahan baku, peluang penyerapan hidrogen (offtake), serta opsi partisipasi investasi. Kedua perusahaan juga berkomitmen menjaga kerahasiaan informasi selama proses evaluasi berlangsung.

FLEXIH Inc. merupakan perusahaan teknologi energi bersih asal Amerika Serikat yang mengembangkan teknologi modular E-Refinery. Teknologi ini dirancang untuk menghasilkan hidrogen, amonia, serta bahan bakar dan bahan kimia rendah karbon.

Salah satu teknologi yang dikembangkan FLEXIH adalah gasifikasi plasma. Teknologi tersebut berpotensi mengolah berbagai jenis bahan baku, termasuk biomassa, menjadi produk energi bernilai tambah.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan penandatanganan NDA menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan dan membuka ruang pertukaran informasi dalam penjajakan kerja sama kedua perusahaan.

“Penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan atau Non-Disclosure Agreement (NDA) pada hari ini merupakan langkah awal yang sangat penting dan strategis. Langkah ini menjadi fondasi hukum serta bentuk komitmen bersama dalam menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi sensitif, seiring dengan dimulainya rencana pelaksanaan kerja sama dan pertukaran data antara PLN Energi Primer Indonesia dan FlexiH Inc.,” ujar Hokkop.

Sementara itu, CEO sekaligus Founder FLEXIH Inc., Dr. Natarianto Indrawan, menilai kolaborasi menjadi faktor penting dalam mengembangkan teknologi energi masa depan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi biomassa yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.

“Pengembangan energi masa depan tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Kita perlu membangun kolaborasi yang menghubungkan potensi sumber daya dan kebutuhan industri. Indonesia memiliki kekayaan biomassa yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Dengan pendekatan teknologi yang tepat, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi sekaligus mendukung dekarbonisasi,” ungkap Natarianto.

Ia menjelaskan, teknologi gasifikasi plasma berpotensi mendukung pemanfaatan biomassa dengan kadar air relatif tinggi. Kedua perusahaan akan mengevaluasi karakteristik teknologi tersebut untuk mengetahui kesesuaiannya dengan jenis biomassa yang tersedia di Indonesia, termasuk dari sisi keekonomian proyek.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat bersama-sama mengkaji bagaimana teknologi dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik biomassa yang tersedia, serta aspek keekonomian proyek. Pendekatan tersebut penting agar pengembangan teknologi tidak berhenti pada konsep, tetapi memiliki landasan yang kuat untuk dievaluasi lebih lanjut,” tambah Natarianto.

PLN EPI terus mengembangkan pemanfaatan biomassa dan menjajaki peluang bioenergi sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi. Perusahaan juga berupaya meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik untuk mendukung transisi energi nasional.

Melalui penjajakan dengan FLEXIH, PLN EPI membuka peluang pemanfaatan biomassa tidak hanya sebagai bahan bakar, tetapi juga sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk energi bernilai tambah, seperti hidrogen rendah karbon.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang diversifikasi energi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi di Indonesia. Namun, pengembangan fasilitas produksi tersebut masih dalam tahap penjajakan dan memerlukan evaluasi lebih lanjut terhadap ketersediaan bahan baku, kesesuaian teknologi, serta kelayakan ekonomi proyek.