JAKRTA, (Mtimes) – Malaysia mengembangkan teknologi pendingin server pusat data (data center) berbasis minyak sawit untuk mengurangi penggunaan air dan energi. Inovasi bernama Sawit EcoTherm ini memanfaatkan cairan khusus untuk menyerap panas dari komponen server.
Namun, teknologi tersebut juga memunculkan kekhawatiran tentang potensi perluasan perkebunan sawit.
Tim peneliti Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mengembangkan teknologi ini seiring meningkatnya kebutuhan air dan listrik akibat pertumbuhan infrastruktur digital Malaysia. Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP), Sawit EcoTherm kini semakin dekat dengan tahap komersialisasi.
Peneliti senior di Unit Rekayasa Proses dan Desain, Divisi Teknologi Oleokimia Lanjutan MPOB, Dr Noor Khairin Mohd, menjelaskan bahwa Sawit EcoTherm menawarkan sistem pendinginan tanpa air. Teknologi ini menggunakan cairan dielektrik nonkonduktif untuk menyerap panas langsung dari komponen server.
“Alih-alih menggunakan menara pendingin yang mengonsumsi banyak air melalui penguapan, komponen server sepenuhnya terendam dalam cairan dielektrik nonkonduktif yang terus memindahkan panas dalam sistem sirkulasi tertutup,” kata Noor Khairin kepada media lokal Bernama.
Menurut Noor Khairin, penggunaan teknologi ini secara luas berpotensi menekan kebutuhan air industri pusat data di Malaysia. MPOB memperkirakan sistem pendinginan berbasis air di pusat data Malaysia berpotensi mengonsumsi 876 juta liter air per hari. Jumlah itu setara dengan kebutuhan air hampir 4 juta orang.
Pendingin Sawit Diklaim Hemat Energi hingga 50 Persen
Sawit EcoTherm menyasar pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pusat data hyperscale berskala besar. Noor Khairin menjelaskan bahwa server AI menghasilkan panas tiga hingga lima kali lebih tinggi daripada server konvensional.
Karena itu, pusat data membutuhkan sistem pendinginan yang mampu mengendalikan panas sekaligus menjaga efisiensi operasional. MPOB mengklaim Sawit EcoTherm dapat menurunkan konsumsi energi sekitar 30 hingga 50 persen dan menghilangkan kebutuhan kipas server.
Teknologi ini juga berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan daya atau power usage effectiveness (PUE). Jika penggunaan listrik turun, pusat data dapat mengurangi emisi gas rumah kaca tidak langsung yang berasal dari konsumsi listrik atau emisi Scope 2.
Meski menawarkan penghematan air dan energi, teknologi ini tetap membutuhkan evaluasi menyeluruh untuk memastikan manfaat lingkungannya.
Ekspansi Pusat Data Tingkatkan Kebutuhan Air dan Listrik
Pengembangan Sawit EcoTherm berlangsung ketika Malaysia gencar menarik investasi infrastruktur digital. Data Malaysian Investment Development Authority menunjukkan pemerintah menyetujui 143 proyek investasi pusat data dan komputasi awan (cloud) senilai US$35,23 miliar sepanjang 2021 hingga pertengahan 2025.
Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air Malaysia, Fadillah Yusof, menyebut konsumsi listrik dan air pusat data per April 2026 telah mencapai separuh dari kapasitas yang disetujui.
Untuk mengantisipasi tekanan terhadap sumber daya, pemerintah Malaysia menerapkan sejumlah langkah, termasuk penilaian teknis secara menyeluruh. Pemerintah ingin memastikan pertumbuhan pusat data tidak mengganggu pasokan air dan energi bagi masyarakat maupun kebutuhan pembangunan lainnya.
Risiko Perluasan Perkebunan Sawit Jadi Sorotan
Di tengah kebutuhan untuk menghemat air dan energi, para ahli mengingatkan bahwa bahan baku berbasis sawit tidak otomatis menjadikan teknologi pendingin ini lebih ramah lingkungan.
Renard Siew, pakar keberlanjutan dan perubahan iklim sekaligus Kepala Keberlanjutan di Yinson, menilai pengembang perlu mengevaluasi seluruh siklus hidup produk, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pengolahan, transportasi, penggunaan, kinerja, dan akhir masa pakainya.
“Pertanyaan yang relevan adalah jejak sepanjang siklus hidupnya, mulai dari bahan baku dan pengolahan hingga transportasi, penggunaan, kinerja, dan akhir masa pakai,” kata Siew.
Ia mengingatkan bahwa peningkatan permintaan cairan pendingin berbasis sawit dapat mendorong perluasan perkebunan. Jika hal itu terjadi, teknologi yang bertujuan mengurangi dampak lingkungan pusat data justru berpotensi memindahkan beban lingkungan ke sektor produksi bahan baku.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Siew mendorong komitmen tanpa deforestasi, penggunaan bahan baku bersertifikat yang dapat ditelusuri, serta perlindungan lahan. Ia juga menyarankan pemanfaatan produk samping sawit dari sumber yang bertanggung jawab agar permintaan baru tidak terus mendorong produksi pertanian primer.
Peluang Ekonomi bagi Industri Sawit
Dari sisi ekonomi, Direktur Program Studi Ekonomi Sunway University, Yeah Kim Leng, menilai Sawit EcoTherm berpotensi meningkatkan permintaan minyak sawit dan menopang harga komoditas tersebut.
Menurut Yeah, peluang itu dapat mendorong perluasan penanaman sawit sekaligus meningkatkan hasil buah dan rendemen minyak. Di tengah kekhawatiran terhadap besarnya konsumsi air pusat data, ia menilai cairan pendingin berbasis minyak sawit dapat menjadi salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan.
Meski demikian, manfaat ekonomi tersebut perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Keberhasilan Sawit EcoTherm tidak cukup diukur dari penghematan air dan listrik di pusat data, tetapi juga dari dampak produksi bahan baku terhadap hutan, lahan, dan ekosistem.