Home

Indonesia Punya Potensi Gas Biometana dari Limbah Cair Kelapa Sawit

Oleh Amril Amarullah 27 Okt 2026 21:29 WIB Kategori: Aheadline

DENPASAR (Mtimes) – PT Pertamina (Persero) menyampaikan Indonesia memiliki potensi gas biometana lebih dari 200 MMSCFD dari limbah cair kelapa sawit yang dimurnikan menjadi biogas.

“Limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD biometana yang bisa kita monetize (uangkan),” ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.

Dilansir dari Antaranews, Oki menyampaikan potensi biometana menjadi salah satu pembahasan dalam ASCOPE. Para anggota ASCOPE, kata dia, membahas bagaimana menangkap gas metana yang keluar dari limbah-limbah cair yang ada di Indonesia dan di negara lain.

Selain itu, lanjut dia, para perusahaan yang merupakan anggota ASCOPE juga berdiskusi tentang bagaimana cara menangkap gas metana yang bocor dari fasilitas-fasilitas minyak dan gas bumi (migas).

“Jadi, dengan kita memperkuat produksi di beberapa negara di ASEAN, kita memperkuat kawasan ini,” ucap Oki.

Di sisi lain, CEO PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) John Anis sempat menyinggung kerja sama dengan Singapore LNG (SLNG) untuk mengembangkan biometana dari pabrik-pabrik kelapa sawit.

John menyampaikan SLNG memiliki konsumen yang akan membeli biometana dari pabrik sawit, sementara Indonesia memiliki pasokan bahan bakunya.

Kerja sama pengembangan biometana tersebut, tutur John, memperkuat strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy) perusahaan, khususnya pada lini bisnis rendah karbon (low carbon business).

Sinergi tersebut mempercepat komersialisasi produk tanpa perlu membangun pasar secara mandiri dari awal.

“Kita nanti juga punya teknologi, kita kerja samakan bersama-sama sehingga saling menguntungkan,” ujar John.

Pertamina memetakan potensi dari sekitar 27 pabrik kelapa sawit di Sumatra yang terbagi ke dalam empat klaster utama. Keempat klaster tersebut meliputi kawasan Sumatera Utara (klaster 1), Riau (klaster 2), Jambi (klaster 3), serta Lampung dan Palembang (klaster 4).

Saat ini, studi kelayakan untuk proyek tersebut dinilai menunjukkan kemajuan, dan perusahaan sedang mematangkan rencana transportasi transmisi biometana, baik melalui jaringan pipa maupun truk untuk moda darat.

Pihaknya juga menargetkan pengamanan surat minat (letter of intent) dengan para pembeli (off-taker).