Home

Tujuh Merak Hijau Diberangkatkan ke Ujung Kulon, Disiapkan untuk Kembali ke Habitat Alami

Oleh Helmi 04 Nov 2026 13:49 WIB Kategori: Edukasi

JAKARTA (Mtimes) – Upaya pelestarian satwa langka di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Kali ini, Jagat Satwa Nusantara (JSN) memberangkatkan tujuh ekor merak hijau (Pavo muticus) hasil pengembangbiakan terkontrol untuk menjalani tahapan persiapan pelepasliaran di Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Ketujuh burung tersebut terdiri dari dua individu jantan dan lima betina. Pemberangkatan yang dilakukan pada Selasa (3/11/2026) ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan program konservasi di luar habitat alami (eksitu) dengan pelestarian satwa di habitat aslinya (insitu).

Momentum ini juga terasa istimewa karena berlangsung menjelang peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang jatuh setiap 5 November.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengapresiasi inisiatif Jagat Satwa Nusantara dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi tersebut.

Menurut dia, keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam memperkuat upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif yang dilakukan Jagat Satwa Nusantara. Ini merupakan langkah positif yang patut diketahui masyarakat luas,” ujar Ahmad dalam seremoni pemberangkatan merak hijau di Resto Bakau, Dunia Air Tawar, kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dia berharap kegiatan konservasi serupa mendapat perhatian lebih luas sehingga dapat menginspirasi berbagai pihak untuk ikut mengambil peran dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia.

Sementara itu, Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, Muhammad Fardhan Khan, mengatakan pengembangbiakan satwa bukanlah tujuan akhir dari sebuah program konservasi.

Lebih dari itu, hasil pengembangbiakan perlu menjadi bagian dari rangkaian upaya pelestarian yang terencana, mulai dari pengelolaan satwa, pengamatan perilaku, persiapan habitat, hingga pemantauan setelah pelepasliaran.

Melalui pendekatan tersebut, JSN ingin mengembangkan konsep Zoo Skolastik, yakni menjadikan lembaga konservasi sebagai ruang pembelajaran berbasis bukti yang mengintegrasikan edukasi, riset, dan praktik pelestarian satwa.

“Konservasi bukan sekadar menjaga kehidupan, tetapi juga membangun pengetahuan dan memastikan keberlanjutannya,” kata Fardhan.

Persiapan sebelum dilepasliarkan

Sebelum diberangkatkan, ketujuh merak hijau tersebut telah menjalani serangkaian tahapan persiapan yang dilakukan Tim Life Science JSN.

Persiapan meliputi pengenalan pakan alami, termasuk buah ara, pemberian pengayaan lingkungan, serta pemantauan perilaku dan aktivitas satwa menggunakan kamera pengawas atau CCTV.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong munculnya perilaku alami sekaligus mengumpulkan data sebagai bahan evaluasi kesiapan satwa menuju tahapan berikutnya.

JSN juga berkoordinasi dengan pengelola kawasan Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk melakukan survei awal di Pulau Handeuleum. Survei mencakup pengamatan kondisi lingkungan, ketersediaan sumber pakan, serta sumber air yang dibutuhkan satwa.

Hasil pengamatan tersebut menjadi salah satu dasar dalam mempersiapkan lokasi tujuan.

Meski demikian, proses rehabilitasi dan pengenalan lingkungan tidak serta-merta menjamin keberhasilan adaptasi satwa di alam liar. Penilaian teknis, penanganan selama transportasi, penyesuaian di lokasi tujuan, serta pemantauan setelah pelepasliaran tetap menjadi tahapan penting.

Karena itu, pemberangkatan tujuh merak hijau ini belum menjadi akhir dari proses konservasi. Setibanya di kawasan Ujung Kulon, satwa akan menjalani penanganan dan persiapan lanjutan sesuai arahan teknis pihak berwenang dan pengelola kawasan.

Pemantauan pascapelepasliaran nantinya diharapkan dapat menghasilkan data mengenai keberadaan, perilaku adaptasi, dan perkembangan satwa di habitat alaminya.

Merak hijau berstatus terancam punah

Upaya pelestarian merak hijau menjadi penting mengingat spesies ini merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia dan masuk kategori Endangered (EN) atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN.

Dengan status tersebut, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah individu yang berhasil dikembangbiakkan atau diberangkatkan menuju habitat alami.

Aspek kesehatan, kemampuan beradaptasi, ketersediaan pakan, kondisi lingkungan, hingga keberlangsungan hidup setelah dilepasliarkan menjadi indikator yang perlu diperhatikan.

Sales & Commercial Group Head PT Bhumi Visatanda Indonesia, Palupi Rusdiyadmi, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurut dia, pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia usaha.

“Masa depan kekayaan Nusantara tidak cukup hanya diperkenalkan, tetapi harus dijaga dan diperjuangkan kelestariannya,” ujar Palupi.

Program ini melibatkan Jagat Satwa Nusantara, TMII, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, serta Balai Taman Nasional Ujung Kulon dan sejumlah mitra.

Dukungan dari sektor swasta juga hadir melalui PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. melalui balé by BTN sebagai sponsor kegiatan.

Dalam seremoni tersebut, BTN diwakili Regional Digital Head Kantor Wilayah Jakarta 1 Ricky Antoni dan Deputy Branch Manager Business Kantor Cabang Jakarta Harmoni, Laksamana Hadi.

Turut hadir Kepala Seksi I BKSDA Jakarta Marwan Shofa yang mewakili Kepala BKSDA Jakarta, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) Tony Sumampow, serta Riyadi dari Dewan Burung Indonesia.

Sejumlah tokoh media dan kebudayaan juga menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kasim dan General Manager Bentara Budaya Indonesia Ilham Khoiri.

Seremoni pemberangkatan sengaja dilaksanakan di kawasan TMII, bukan di lokasi yang direncanakan menjadi tempat pelepasliaran. Langkah ini dilakukan untuk membatasi intensitas aktivitas manusia di kawasan habitat tujuan.

Melalui program tersebut, Jagat Satwa Nusantara berharap upaya konservasi tidak berhenti pada keberhasilan pengembangbiakan. Lebih jauh, program ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi merak hijau sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dunia usaha, dan masyarakat.

JAKARTA (Mtimes) – Upaya pelestarian satwa langka di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Kali ini, Jagat Satwa Nusantara (JSN) memberangkatkan tujuh ekor merak hijau (Pavo muticus) hasil pengembangbiakan terkontrol untuk menjalani tahapan persiapan pelepasliaran di Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Ketujuh burung tersebut terdiri dari dua individu jantan dan lima betina. Pemberangkatan yang dilakukan pada Selasa (3/11/2026) ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan program konservasi di luar habitat alami (eksitu) dengan pelestarian satwa di habitat aslinya (insitu).

Tujuh Merak Hijau Diberangkatkan ke Ujung Kulon, Disiapkan untuk Kembali ke Habitat Alami

Momentum ini juga terasa istimewa karena berlangsung menjelang peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang jatuh setiap 5 November.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengapresiasi inisiatif Jagat Satwa Nusantara dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi tersebut.

Menurut dia, keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam memperkuat upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif yang dilakukan Jagat Satwa Nusantara. Ini merupakan langkah positif yang patut diketahui masyarakat luas,” ujar Ahmad dalam seremoni pemberangkatan merak hijau di Resto Bakau, Dunia Air Tawar, kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dia berharap kegiatan konservasi serupa mendapat perhatian lebih luas sehingga dapat menginspirasi berbagai pihak untuk ikut mengambil peran dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia.

Sementara itu, Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, Muhammad Fardhan Khan, mengatakan pengembangbiakan satwa bukanlah tujuan akhir dari sebuah program konservasi.

Lebih dari itu, hasil pengembangbiakan perlu menjadi bagian dari rangkaian upaya pelestarian yang terencana, mulai dari pengelolaan satwa, pengamatan perilaku, persiapan habitat, hingga pemantauan setelah pelepasliaran.

Melalui pendekatan tersebut, JSN ingin mengembangkan konsep Zoo Skolastik, yakni menjadikan lembaga konservasi sebagai ruang pembelajaran berbasis bukti yang mengintegrasikan edukasi, riset, dan praktik pelestarian satwa.

“Konservasi bukan sekadar menjaga kehidupan, tetapi juga membangun pengetahuan dan memastikan keberlanjutannya,” kata Fardhan.

Persiapan sebelum dilepasliarkan

Sebelum diberangkatkan, ketujuh merak hijau tersebut telah menjalani serangkaian tahapan persiapan yang dilakukan Tim Life Science JSN.

Persiapan meliputi pengenalan pakan alami, termasuk buah ara, pemberian pengayaan lingkungan, serta pemantauan perilaku dan aktivitas satwa menggunakan kamera pengawas atau CCTV.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong munculnya perilaku alami sekaligus mengumpulkan data sebagai bahan evaluasi kesiapan satwa menuju tahapan berikutnya.

JSN juga berkoordinasi dengan pengelola kawasan Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk melakukan survei awal di Pulau Handeuleum. Survei mencakup pengamatan kondisi lingkungan, ketersediaan sumber pakan, serta sumber air yang dibutuhkan satwa.

Hasil pengamatan tersebut menjadi salah satu dasar dalam mempersiapkan lokasi tujuan.

Meski demikian, proses rehabilitasi dan pengenalan lingkungan tidak serta-merta menjamin keberhasilan adaptasi satwa di alam liar. Penilaian teknis, penanganan selama transportasi, penyesuaian di lokasi tujuan, serta pemantauan setelah pelepasliaran tetap menjadi tahapan penting.

Karena itu, pemberangkatan tujuh merak hijau ini belum menjadi akhir dari proses konservasi. Setibanya di kawasan Ujung Kulon, satwa akan menjalani penanganan dan persiapan lanjutan sesuai arahan teknis pihak berwenang dan pengelola kawasan.

Pemantauan pascapelepasliaran nantinya diharapkan dapat menghasilkan data mengenai keberadaan, perilaku adaptasi, dan perkembangan satwa di habitat alaminya.

Merak hijau berstatus terancam punah

Upaya pelestarian merak hijau menjadi penting mengingat spesies ini merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia dan masuk kategori Endangered (EN) atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN.

Dengan status tersebut, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah individu yang berhasil dikembangbiakkan atau diberangkatkan menuju habitat alami.

Aspek kesehatan, kemampuan beradaptasi, ketersediaan pakan, kondisi lingkungan, hingga keberlangsungan hidup setelah dilepasliarkan menjadi indikator yang perlu diperhatikan.

Sales & Commercial Group Head PT Bhumi Visatanda Indonesia, Palupi Rusdiyadmi, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurut dia, pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia usaha.

“Masa depan kekayaan Nusantara tidak cukup hanya diperkenalkan, tetapi harus dijaga dan diperjuangkan kelestariannya,” ujar Palupi.

Program ini melibatkan Jagat Satwa Nusantara, TMII, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, serta Balai Taman Nasional Ujung Kulon dan sejumlah mitra.

Dukungan dari sektor swasta juga hadir melalui PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. melalui balé by BTN sebagai sponsor kegiatan.

Dalam seremoni tersebut, BTN diwakili Regional Digital Head Kantor Wilayah Jakarta 1 Ricky Antoni dan Deputy Branch Manager Business Kantor Cabang Jakarta Harmoni, Laksamana Hadi.

Turut hadir Kepala Seksi I BKSDA Jakarta Marwan Shofa yang mewakili Kepala BKSDA Jakarta, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) Tony Sumampow, serta Riyadi dari Dewan Burung Indonesia.

Sejumlah tokoh media dan kebudayaan juga menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kasim dan General Manager Bentara Budaya Indonesia Ilham Khoiri.

Seremoni pemberangkatan sengaja dilaksanakan di kawasan TMII, bukan di lokasi yang direncanakan menjadi tempat pelepasliaran. Langkah ini dilakukan untuk membatasi intensitas aktivitas manusia di kawasan habitat tujuan.

Melalui program tersebut, Jagat Satwa Nusantara berharap upaya konservasi tidak berhenti pada keberhasilan pengembangbiakan. Lebih jauh, program ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi merak hijau sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dunia usaha, dan masyarakat.