JAWA TIMUR (Mtimes) – Gunung Semeru yang berstatus level III atau Siaga kembali erupsi meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur sejauh 5 kilometer dari puncak ke arah tenggara atau Besuk Kobokan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Jumat sore.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 15.48 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra dalam laporan tertulisnya yang diterima di Lumajang.
Menurut dia, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah tenggara dan selatan. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 744 detik.
“Erupsi luncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 5 km ke arah tenggara (Curah Kobokan),” tuturnya dikutip dari Antaranews.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali erupsi pada pukul 16.57 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak (4.176 mdpl) dan kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah tenggara. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 5 menit 48 detik.
“Erupsi tersebut juga disertai awan panas dengan jarak luncur sekitar 4 km meter dari kawah ke arah tenggara,” ujarnya.
Ia menjelaskan saat ini Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
“Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Agastya juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” pungkasnya.