Home

Betawi Menyapa Malaysia, Karya Sarnadi Adam Tampil di Pameran Seni “Rentas” Kuala Lumpur

Oleh Amril Amarullah 20 Sep 2026 20:02 WIB Kategori: Aheadline

KUALA LUMPUR (Mtimes) – Kebudayaan Betawi kembali menyeberangi batas geografis. Kali ini, identitas budaya Jakarta itu hadir melalui karya seni rupa Dr. Sarnadi Adam dalam pameran internasional bertajuk “Rentas” di Gallery ASWARA, Jalan Tun Ismail, Kuala Lumpur, Malaysia.

Pameran yang berlangsung hingga 30 Oktober 2026 tersebut mempertemukan karya para perupa dari berbagai latar budaya. Kehadiran karya Sarnadi menjadi ruang bagi kebudayaan Betawi untuk diperkenalkan kepada masyarakat Malaysia melalui bahasa seni rupa.

Bagi Sarnadi, seni tidak berhenti sebagai medium untuk menggambarkan identitas budaya. Seni juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dengan latar belakang budaya berbeda.

Dalam salah satu karya yang dipamerkan, Sarnadi menghadirkan sosok perempuan Betawi yang mengenakan busana tradisional dengan warna dan ornamen yang kaya.

Figur perempuan itu berdiri anggun di tengah ruang dengan latar arsitektur bernuansa tradisional. Hiasan kepala, busana, motif dekoratif hingga lampu gantung menjadi elemen yang memperkuat komposisi visual lukisan.

Sosok perempuan tersebut menjadi pusat perhatian. Sikap tubuh yang tenang dan ekspresi wajah yang lembut menghadirkan kesan kesantunan sekaligus kebanggaan terhadap identitas Betawi.

Warna merah, kuning, hijau, dan biru pada busana memberikan aksen yang hidup. Sementara latar berwarna gelap membuat figur utama tampil semakin kuat.

Namun, Sarnadi tidak hanya menjadikan manusia sebagai pusat cerita. Ruang arsitektur dalam lukisan turut memiliki peran penting.

Ornamen geometris, motif flora, serta elemen dekoratif pada bangunan memperlihatkan bagaimana simbol-simbol kebudayaan diterjemahkan menjadi bahasa visual.

Rumah dalam karya tersebut tidak sekadar menjadi latar. Ia dapat dimaknai sebagai simbol ruang kehidupan, tempat nilai, tradisi, dan ingatan budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika Betawi “Merentas” ke Kuala Lumpur

Tema “Rentas” menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan kehadiran karya Sarnadi Adam.

Rentas dapat dimaknai sebagai perjalanan, penyeberangan, atau upaya melampaui batas. Dalam konteks karya Sarnadi, gagasan itu menemukan relevansinya ketika kebudayaan Betawi yang tumbuh dan berkembang di Jakarta hadir di ruang budaya Kuala Lumpur.

Perjalanan tersebut bukan semata perpindahan sebuah lukisan dari Jakarta ke Malaysia.

Ada gagasan tentang identitas, tradisi, dan kebudayaan yang ikut “merentas”.

Melalui karya Sarnadi, masyarakat Malaysia dapat mengenal Betawi dari perspektif seorang seniman yang mengolah unsur-unsur budaya tersebut ke dalam bahasa seni rupa.

Di titik inilah seni menemukan kekuatannya sebagai bahasa yang melampaui batas.

Perbedaan latar belakang budaya tidak selalu menjadi penghalang untuk menikmati sebuah karya. Figur manusia, busana, warna, ornamen, ekspresi, dan suasana kehidupan dapat menjadi titik temu yang membantu penonton memahami kebudayaan lain.

Betawi dalam Diplomasi Budaya

Kehadiran karya Dr. Sarnadi Adam di Gallery ASWARA juga membawa makna yang lebih luas. Seni rupa menjadi salah satu medium yang memungkinkan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

Lukisan menjadi jembatan yang mempertemukan dua masyarakat serumpun, Indonesia dan Malaysia.

Dalam karya Sarnadi, Betawi tidak hanya hadir sebagai objek visual. Ia tampil sebagai cerita mengenai identitas, tradisi, keindahan, serta kehidupan masyarakat Jakarta.

Sosok perempuan Betawi yang menjadi figur utama dapat dibaca sebagai representasi penjaga nilai budaya. Namun, pada saat yang sama, figur tersebut juga memperlihatkan bahwa tradisi merupakan sesuatu yang terus bergerak dan dapat berdialog dengan perkembangan zaman.

Pameran “Rentas” pun menjadi ruang dialog budaya. Dari Betawi menuju Malaysia, dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, karya seni menempuh perjalanan melampaui batas geografis untuk memperkenalkan salah satu wajah kebudayaan Indonesia.

Pameran tersebut dibuka oleh Prof. Ibrahim, Dekan Fakultas Seni Halus ASWARA, dan mempertemukan para perupa dari berbagai latar budaya.

Bagi kebudayaan Betawi, kehadiran karya Sarnadi Adam di Kuala Lumpur menjadi momentum untuk memperluas ruang pengenalan budaya Jakarta kepada masyarakat luar negeri.

Identitas Betawi tidak berhenti pada ruang geografis Jakarta. Melalui seni, identitas tersebut dapat terus diperkenalkan, ditafsirkan, dan dihadirkan dalam ruang-ruang kebudayaan baru.

Pada akhirnya, karya Sarnadi memperlihatkan bahwa merawat budaya bukan berarti membekukannya dalam masa lalu.

Sebaliknya, budaya perlu terus dihidupkan melalui karya, tafsir, dan dialog agar tetap relevan serta mampu berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayaan lain.

Di Gallery ASWARA Kuala Lumpur, Betawi pun merentas batas. Ia hadir melalui warna, figur, busana, ornamen, dan bahasa lukisan, menyapa negeri jiran sekaligus memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. (hel)