Home

Bank Jakarta Perluas Layanan Mikro, Sentra Usaha Harus Dekat dengan Pasar

Oleh Yudi Purwanto 31 Okt 2026 14:48 WIB Kategori: Aheadline

JAKARTA, (Mtimes) – Bank Jakarta memperluas akses layanan perbankan bagi pelaku usaha mikro dengan mendekatkan layanan ke pusat aktivitas ekonomi, termasuk pasar. Langkah ini bertujuan mempermudah pelaku usaha mengakses layanan transaksi dan pembiayaan sesuai kebutuhan bisnis mereka.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo, mengatakan pengembangan layanan bagi usaha mikro dan usaha kecil menengah (UKM) membutuhkan strategi berbeda. Karena itu, Bank Jakarta mengembangkan sentra mikro dan sentra UMKM untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha di ibu kota.

“Kalau sentra UKM tidak perlu terlalu banyak karena bisa dipusatkan di sentra-sentra tertentu, kemudian pelaku usahanya yang bergerak. Namun, kalau mikro harus dekat dengan pasarnya,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).

Agus menjelaskan, Bank Jakarta dapat memusatkan layanan UKM di sejumlah lokasi karena karakteristik dan kebutuhan pelakunya berbeda dengan usaha mikro. Sebaliknya, pelaku usaha mikro membutuhkan layanan yang dekat dengan lokasi usaha dan pasar tempat mereka beraktivitas setiap hari.

Melalui strategi tersebut, Bank Jakarta ingin mempermudah pelaku usaha mengakses layanan keuangan. Kemudahan transaksi dan pembiayaan diharapkan membantu UMKM mengembangkan bisnis sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Selain memperluas layanan UMKM, Bank Jakarta juga memperkuat tata kelola perusahaan untuk menjaga kepercayaan nasabah. Agus menegaskan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) menjadi kebutuhan mendasar dalam bisnis perbankan.

“Bisnis bank itu adalah bisnis kepercayaan. Supaya bank ini bisa dipercaya, tata kelola sudah menjadi hal yang wajib dan itu terus-menerus kita bangun,” kata Agus.

Menurut Agus, Bank Jakarta memperkuat tata kelola melalui peningkatan kepatuhan, pengelolaan risiko, dan sistem pengendalian internal. Langkah ini bertujuan menjaga operasional perbankan agar tetap sehat, transparan, dan akuntabel.

Agus juga menyebut lima prinsip utama tata kelola perusahaan, yakni transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, integritas, dan kewajaran. Bank Jakarta perlu menerapkan prinsip-prinsip tersebut untuk menjaga kepercayaan nasabah sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis.

Saat ini, Bank Jakarta memiliki sekitar empat juta nasabah. Agus menilai bank perlu mengimbangi pengembangan layanan dengan penguatan manajemen risiko dan tata kelola agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

“Melalui penguatan tata kelola, peningkatan manajemen risiko, serta perluasan akses layanan bagi UMKM, Bank Jakarta berupaya menjaga kepercayaan nasabah sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat Jakarta,” kata Agus.

Sementara itu, Presidium Lintas Generasi Aktivis (Liga) Pro Jakarta, Syafti Hidayat atau Ucok, mengapresiasi pengembangan layanan Bank Jakarta. Ia berharap bank milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut terus meningkatkan kualitas layanan agar mampu bersaing dengan bank-bank milik negara maupun swasta.

“Semoga layanan Bank Jakarta dapat terus ditingkatkan dan bisa mengungguli bank-bank Himbara maupun swasta,” kata Ucok.