Home

Perubahan Iklim Ancam Produksi Pangan, Padi dan Jagung Berpotensi Turun

Oleh Yudi Purwanto 02 Nov 2026 09:27 WIB Kategori: News

JAKARTA, (Mtimes) – Perubahan iklim berpotensi menekan produksi sejumlah komoditas pertanian utama di Asia Tenggara dalam dua dekade mendatang. Produksi padi diperkirakan turun 3–5 persen, sedangkan jagung berpotensi merosot 5–6 persen.

Temuan tersebut tercantum dalam studi ASEAN Agri Climate Impact Twenty (AACIT) yang disusun Badan Pangan Singapura (Singapore Food Agency/SFA) bersama Tropical Marine Science Institute dari National University of Singapore (NUS).

Berdasarkan lembar fakta yang dirilis SFA pada 29 Oktober 2026, penelitian ini mengkaji dampak perubahan iklim terhadap lima komoditas pertanian utama di ASEAN, yakni padi, jagung, singkong, tebu, dan kedelai. Peneliti memproyeksikan perubahan produksi pada periode 2025–2044 dengan membandingkannya terhadap kondisi historis 1995–2014.

Hasil studi menunjukkan dampak perubahan iklim berbeda pada setiap komoditas. Produksi padi diproyeksikan turun 3–5 persen, jagung 5–6 persen, dan tebu 1–4 persen. Sebaliknya, produksi singkong berpotensi meningkat 16 persen, sedangkan kedelai diperkirakan naik 11–13 persen.

Meski demikian, kenaikan produksi rata-rata singkong dan kedelai bukan berarti kedua komoditas tersebut bebas dari ancaman iklim. Panas ekstrem, curah hujan tinggi, hingga kekeringan tetap berpotensi mengganggu hasil panen pada tahun-tahun tertentu.

Studi AACIT juga memperhitungkan perbedaan produksi ketika kawasan ASEAN menghadapi kondisi iklim yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Pada tahun dengan kondisi relatif baik, produksi padi diproyeksikan meningkat 4 persen. Namun, ketika kondisi iklim memburuk, produksinya bisa turun hingga 15 persen.

Sementara itu, produksi jagung diproyeksikan turun 2 persen pada tahun yang menguntungkan dan dapat merosot 19 persen ketika kondisi iklim tidak mendukung. Berbeda dengan jagung, singkong berpotensi mencatat kenaikan produksi 32 persen pada tahun yang menguntungkan dan 2 persen pada tahun yang tidak menguntungkan.

Untuk komoditas tebu, produksi diproyeksikan naik 1 persen pada tahun yang menguntungkan, tetapi bisa turun 15 persen ketika kondisi iklim memburuk. Adapun produksi kedelai berpotensi meningkat 30 persen pada tahun yang menguntungkan dan turun 5 persen pada tahun yang tidak menguntungkan.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa proyeksi produksi rata-rata tidak selalu mencerminkan hasil panen setiap tahun. Kondisi cuaca dan kemampuan petani beradaptasi turut menentukan hasil produksi.

El Nino Bisa Tekan Produksi hingga 10 Persen

Selain perubahan iklim jangka panjang, studi AACIT mengidentifikasi fenomena El Nino sebagai salah satu faktor yang dapat memperbesar risiko penurunan produksi pertanian. Simulasi penelitian menunjukkan El Nino yang sangat kuat berpotensi menekan rata-rata produksi tanaman di Asia Tenggara hingga sekitar 10 persen.

Fenomena El Nino umumnya memicu kondisi lebih panas dan kering di sejumlah wilayah. Situasi ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, terutama komoditas yang membutuhkan pasokan air secara konsisten.

Padi menjadi salah satu komoditas yang lebih rentan terhadap dampak El Nino dibandingkan sejumlah tanaman lainnya. Risiko tersebut semakin besar pada lahan pertanian tadah hujan karena petani sangat bergantung pada curah hujan musiman.

Karena itu, ancaman El Nino tidak hanya berkaitan dengan kenaikan suhu. Ketersediaan air dan kemampuan petani menjaga kondisi pertumbuhan tanaman juga menentukan keberhasilan panen.

Secara umum, Asia Tenggara diproyeksikan menghadapi kenaikan suhu, gelombang panas yang lebih sering dan berlangsung lebih lama, serta pola curah hujan yang semakin tidak menentu.

Sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan lebih lebat dan banjir. Sebaliknya, wilayah lain mungkin menghadapi musim kering lebih panjang dan tekanan kekeringan yang lebih besar. Perubahan tersebut dapat mengganggu pasokan air untuk pertanian, jadwal tanam, hingga hasil panen.

Studi AACIT menegaskan bahwa dampak perubahan iklim tidak akan sama di seluruh negara anggota ASEAN. Kondisi geografis, jenis tanaman, musim tanam, ketersediaan air, dan praktik pengelolaan pertanian akan menentukan tingkat kerentanan setiap wilayah.

SFA dan NUS juga mengingatkan bahwa hasil studi AACIT bukan ramalan pasti mengenai produksi pertanian atau pasokan pangan pada masa mendatang. Penelitian ini menyajikan proyeksi berbasis pemodelan untuk membantu negara-negara ASEAN memahami risiko perubahan iklim terhadap sektor pertanian.

Adaptasi Jadi Kunci Menjaga Ketahanan Pangan

Temuan tersebut diharapkan dapat membantu negara-negara ASEAN menyusun strategi ketahanan pangan, mendiversifikasi sumber pasokan, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi gangguan produksi.

Sejumlah langkah adaptasi dapat dilakukan, mulai dari menyesuaikan kalender tanam, menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, meningkatkan efisiensi irigasi, hingga memperbaiki pengelolaan air.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat pemantauan iklim, prakiraan cuaca musiman, dan sistem peringatan dini. Informasi tersebut dapat membantu petani menentukan waktu tanam serta mengantisipasi perubahan cuaca ekstrem.

Dengan langkah adaptasi yang tepat, negara-negara ASEAN diharapkan mampu mengurangi risiko penurunan produksi dan menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim.