JAKARTA (Mtimes) – Menyusutnya jumlah penduduk usia produktif di sejumlah negara membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia untuk memasuki pasar kerja internasional.
Di tengah besarnya kebutuhan tersebut, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang dapat disiapkan untuk mengisi berbagai posisi di luar negeri.
Tantangannya bukan sekadar menyediakan tenaga kerja, melainkan memastikan kompetensi, keterampilan bahasa, dan kesiapan mental mereka sesuai dengan kebutuhan pemberi kerja.
Direktur Pemetaan Pasar Kerja Luar Negeri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Devriel Sogia, melihat kondisi ini sebagai momentum strategis untuk memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda Indonesia, khususnya lulusan SMK, SMA, dan perguruan tinggi melalui program SMK Go Global.
Menurut Devriel, sejumlah negara di Asia, Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika tengah menghadapi fenomena people aging atau penuaan penduduk. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya tenaga kerja usia produktif yang dibutuhkan untuk menggerakkan berbagai sektor industri dan perekonomian.
Di sisi lain, Indonesia masih memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Potensi ini dapat menjadi sumber tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional, sekaligus membuka alternatif kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan vokasi dan generasi muda yang ingin mengembangkan karier di luar negeri.
“Momentum ini sangat baik bagi Indonesia untuk melakukan penempatan pekerja migran. Negara-negara penempatan, terutama negara maju, sedang mengalami people aging dan sangat kekurangan tenaga kerja usia produktif,” ujar Devriel.
Peluang tersebut juga relevan dengan kondisi ketenagakerjaan dalam negeri. Berdasarkan data Februari 2026 yang disampaikan Devriel, jumlah pengangguran terbuka nasional mencapai 7,24 juta orang, dengan sekitar 1,5 juta di antaranya merupakan lulusan SMK dan 1,7 juta lulusan SMA. Situasi ini menjadi salah satu alasan pentingnya mempertemukan potensi tenaga kerja Indonesia dengan kebutuhan pasar global.
Peluang Kerja Global dan Potensi Lulusan SMK
Besarnya peluang kerja luar negeri tercermin dari kebutuhan tenaga kerja yang tercatat dalam pemetaan KP2MI. Hingga 1 September 2026, terdapat kebutuhan sebanyak 289.982 posisi pada 15 sektor pekerjaan. Kebutuhan tersebut mencakup sektor pekerja domestik, manufaktur, perikanan, peternakan, perkebunan, pertanian, hospitality, kesehatan, hingga teknologi informasi.
Sektor pekerja domestik tercatat memiliki kebutuhan terbesar, yakni 165.971 posisi, disusul manufaktur sebanyak 61.409 posisi. Sementara itu, sektor perikanan, peternakan, perkebunan, dan pertanian membutuhkan 23.506 tenaga kerja, hospitality sebanyak 21.162 tenaga kerja, serta kesehatan sebanyak 6.942 tenaga kerja.
Sejumlah negara yang menjadi tujuan dan memiliki peluang kerja antara lain Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Hong Kong, Singapura, serta beberapa negara Eropa seperti Turki, Bulgaria, dan Slovakia. Untuk lulusan SMK, peluang tersebut dapat disesuaikan dengan bidang keahlian, mulai dari manufaktur dan perhotelan hingga pekerjaan teknis dan sektor lainnya.
Devriel menjelaskan, Indonesia memiliki potensi pasokan tenaga kerja yang besar. Pada 2025, jumlah lulusan SMA, SMK, MA, dan sederajat mencapai 3.274.925 orang. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi pada tahun yang sama tercatat sebanyak 1.195.517 orang. Jika digabungkan, jumlah lulusan dari kedua kelompok pendidikan tersebut mencapai sekitar 4,47 juta orang.
“Supply kita dari sisi jumlah mencukupi sekali. Tetapi dari sisi kompetensinya yang masih kurang. Dari 114.763 data supply pada triwulan II, hanya sekitar 9 persen yang matching dengan kebutuhan pekerjaan,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih terarah dalam menyiapkan calon pekerja migran. Pelatihan perlu didasarkan pada jabatan yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar memberikan keterampilan umum tanpa memperhitungkan peluang penempatan.
Pemetaan Pasar Kerja sebagai Dasar Pelatihan
Untuk memastikan kompetensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan internasional, KP2MI mengembangkan strategi pemetaan pasar kerja melalui pengumpulan dan pengolahan informasi dari berbagai sumber.
Informasi tersebut diperoleh melalui perwakilan RI di luar negeri, khususnya fungsi ekonomi, asosiasi profesi, dunia usaha, serta data kebutuhan pekerjaan yang tercatat dalam SIP2MI dan informasi lowongan kerja (job order).
Dari proses tersebut, KP2MI menyusun tiga basis data utama, yaitu data supply atau ketersediaan calon tenaga kerja, data demand atau kebutuhan tenaga kerja di luar negeri, serta data matching yang menunjukkan kesesuaian antara keduanya.
Hasil pemetaan kemudian digunakan untuk menentukan sektor, negara tujuan, jabatan, dan uraian pekerjaan yang menjadi dasar penyusunan pelatihan. Dengan demikian, peserta tidak hanya dibekali keterampilan sesuai bidang pendidikan, tetapi juga kemampuan spesifik yang dibutuhkan oleh pemberi kerja di negara tujuan.
Devriel mencontohkan sektor hospitality. Lulusan sekolah pariwisata yang dipersiapkan untuk bekerja sebagai housekeeping perlu memperoleh pelatihan yang sesuai dengan standar pekerjaan tersebut, sekaligus dibekali kemampuan bahasa yang relevan dengan negara penempatan.
Pemetaan juga mengacu pada standar klasifikasi pekerjaan internasional, seperti ISCO, agar uraian jabatan dan kompetensi yang diajarkan memiliki kesesuaian dengan kebutuhan dunia kerja global. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan industri internasional.
“Data-data ini sangat penting dalam rangka penyiapan mereka. Kita harus tahu kebutuhan pekerjaannya apa, jabatannya apa, dan kompetensi apa yang harus dipenuhi,” ungkap Devriel.
Menyiapkan Kompetensi Teknis, Bahasa, dan Mental
Selain kesesuaian keterampilan teknis, terdapat sejumlah tantangan lain yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan lulusan SMK untuk bekerja di luar negeri. Devriel membaginya menjadi tantangan teknis dan nonteknis, termasuk persoalan sertifikasi, kemampuan bahasa asing, kemandirian, serta kesiapan beradaptasi dengan lingkungan kerja dan budaya yang berbeda.
Dalam aspek teknis, sertifikasi menjadi salah satu persyaratan penting. Sebagian calon pekerja sebenarnya telah memiliki keterampilan dan sertifikat, tetapi belum seluruhnya mengacu pada standar internasional yang disyaratkan negara tujuan atau profesi tertentu.
Sementara itu, penguasaan bahasa asing menjadi kompetensi yang tidak dapat dipisahkan dari kesiapan bekerja. Persyaratan bahasa berbeda-beda menurut negara dan sektor pekerjaan.
Untuk beberapa pekerjaan kesehatan di negara berbahasa Inggris, misalnya, dibutuhkan kemampuan bahasa Inggris dengan skor IELTS tertentu. Pekerjaan di Jerman dapat mensyaratkan kemampuan bahasa Jerman, sedangkan pekerjaan di Jepang dapat mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang, seperti level N4.
Di samping itu, kesiapan mental dan kemandirian juga menjadi perhatian. Bekerja di luar negeri menuntut calon pekerja untuk mampu menjalani kehidupan jauh dari keluarga, menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat setempat, serta menghadapi lingkungan kerja yang berbeda.
Devriel mencontohkan perbedaan masa adaptasi yang ia gambarkan antara pekerja Indonesia dan pekerja dari beberapa negara lain di Taiwan. Menurutnya, pekerja Indonesia dalam ilustrasi tersebut membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan, sedangkan pekerja dari Vietnam, Thailand, dan Filipina sekitar tiga bulan. Ia menggunakan contoh tersebut untuk menekankan pentingnya pembekalan nonteknis sebelum keberangkatan.
Karena itu, peningkatan kompetensi melalui SMK Go Global tidak hanya berorientasi pada keterampilan kerja, tetapi juga mencakup penguasaan bahasa, kesiapan menghadapi kehidupan di negara tujuan, dan kemampuan beradaptasi.
SMK Go Global, Satukan Pendidikan dan Penempatan
Program SMK Go Global dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar kerja internasional melalui pelatihan yang terhubung dengan proyeksi penempatan. Program ini memiliki target 500.000 pekerja yang dilatih dan ditempatkan hingga 2029, dengan rencana target tahunan sebesar 40.000 pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 80.000 pada 2029.
Bagi Devriel, keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan. Pelatihan harus menjadi bagian dari rangkaian proses yang berujung pada penempatan kerja sesuai kompetensi dan kebutuhan pemberi kerja.
“Ini sepaket. Dia harus sepaket, enggak bisa enggak. Kita komunikasi dengan penempatan. Setelah peningkatan kompetensi, harus ada proses penempatan,” tegasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, KP2MI mendorong integrasi pelatihan bahasa dan keterampilan kerja ke dalam pendidikan vokasi sejak peserta didik masih berada di bangku sekolah.
Melalui koordinasi dengan kementerian yang membidangi pendidikan dasar dan menengah, penguatan persiapan kebekerjaan diharapkan dapat dilakukan lebih awal, termasuk melalui program pendidikan 3+1, yakni tiga tahun pembelajaran di sekolah dan satu tahun yang berkaitan dengan kesiapan kerja.
Dengan persiapan sejak kelas 11 dan 12, peserta memiliki waktu lebih panjang untuk mempelajari bahasa asing, meningkatkan keterampilan teknis, dan memahami persyaratan pekerjaan di negara tujuan. Penyesuaian kurikulum dan spektrum keahlian juga diharapkan dapat memperkuat relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar internasional.
Di sisi lain, KP2MI juga mendorong penguatan sertifikasi internasional dan koordinasi lintas kementerian agar akses terhadap ujian profesi semakin terbuka. Salah satu upaya yang disampaikan Devriel adalah mendorong agar ujian tertentu, seperti Prometric atau NCLEX, dapat difasilitasi di Indonesia sehingga calon pekerja tidak selalu harus mengikuti ujian di luar negeri.
Membangun Ekosistem Penempatan hingga ke Sekolah
Agar program dapat menjangkau lebih banyak calon pekerja, KP2MI juga mengembangkan konektivitas dengan lembaga pendidikan, dunia usaha, dan perusahaan penempatan. Salah satu langkah yang didorong adalah pengembangan Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi dan Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah menjadi Migrant Center.
Melalui pengembangan tersebut, sekolah dan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memberikan informasi mengenai pekerjaan di dalam negeri, tetapi juga membuka akses informasi peluang kerja luar negeri, persyaratan, pelatihan, dan prosedur penempatan yang aman.
KP2MI juga tengah menyempurnakan aplikasi Migran Akses untuk membantu proses pendataan dan mempercepat pencocokan kompetensi calon pekerja dengan kebutuhan pasar. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) direncanakan untuk mendukung pengolahan data dalam jumlah besar sekaligus memberikan rekomendasi alternatif negara dan pekerjaan berdasarkan kompetensi peserta.
Dalam aspek penempatan, KP2MI mengembangkan berbagai jalur, mulai dari kerja sama antarpemerintah (government to government), kerja sama antarpihak (private to private), hingga penempatan mandiri dan skema lainnya sesuai ketentuan. Kerja sama dengan perusahaan penempatan juga menjadi bagian dari upaya memastikan peserta yang telah mengikuti pelatihan memiliki akses terhadap peluang kerja yang sesuai.
Namun, proses tersebut tetap melibatkan seleksi, baik ketika peserta mendaftar pelatihan maupun ketika pemberi kerja memilih calon pekerja. Karena itu, Devriel menekankan pentingnya komitmen peserta sejak awal untuk mengikuti pelatihan dengan tujuan bekerja di luar negeri, sekaligus kesiapan memenuhi persyaratan penempatan.
Ia juga menyampaikan gagasan rasio pelatihan dan penempatan 3:1, yakni melatih tiga orang untuk memproyeksikan satu orang yang berhasil ditempatkan. Gagasan tersebut mempertimbangkan kemungkinan peserta tidak lolos seleksi pemberi kerja atau menghadapi kendala dalam proses penempatan.
Penguatan komitmen, menurutnya, juga diperlukan untuk menjaga akuntabilitas penggunaan anggaran negara. Pelatihan perlu dirancang dengan keterkaitan yang jelas terhadap kebutuhan dan hasil penempatan, sementara mekanisme tanggung jawab peserta harus dirumuskan secara tepat.
Membuka Wawasan dan Kesempatan Generasi Muda
Melalui SMK Go Global, KP2MI berharap semakin banyak lulusan SMK, SMA, dan perguruan tinggi yang memiliki akses terhadap informasi dan kesempatan kerja internasional. Program ini sekaligus diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk mengembangkan keterampilan, memperluas wawasan, dan membangun pengalaman profesional di lingkungan kerja global.
Devriel mengajak para lulusan yang berminat bekerja di luar negeri agar tidak ragu memanfaatkan program tersebut sebagai sarana peningkatan kompetensi, baik teknis maupun nonteknis. Menurutnya, kesempatan bekerja di luar negeri merupakan salah satu pilihan yang dapat dimanfaatkan warga negara untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kesejahteraan.
Ia juga berharap pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi bekal ketika pekerja migran kembali ke Indonesia, termasuk dalam mengembangkan usaha dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lainnya.
“Jangan ragu-ragu untuk ikut program SMK Go Global. Pemerintah memfasilitasi peningkatan kapabilitas dan kompetensi kalian, baik teknis maupun nonteknis, termasuk bahasa dan keterampilan. Ini kesempatan untuk memperluas wawasan, bersaing secara global, dan menjadi batu pijakan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan,” pesan Devriel.
Menurutnya, pengalaman kerja internasional juga berpotensi memperkenalkan pekerja Indonesia pada teknologi, metode, dan standar kerja yang mungkin belum banyak diterapkan di dalam negeri. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk berkontribusi ketika kembali ke Tanah Air.
Dengan demikian, SMK Go Global tidak hanya diarahkan untuk mempertemukan tenaga kerja Indonesia dengan kebutuhan pasar internasional, tetapi juga membangun kesiapan generasi muda menghadapi persaingan global.
Melalui pemetaan yang terukur, pelatihan yang relevan, sertifikasi, penguatan ekosistem, serta keterhubungan dengan penempatan, program ini diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang kompeten dan berdaya saing.