Menenun Asa dari Negeri Gingseng: Kisah Ihsan Membangun Desa Tegal Maja

JAKARTA (Mtimes) – Pekerja di negeri orang dengan imbalan finansial yang melimpah sering kali menjadi impian banyak orang. Namun bagi Ihsan, purna Pekerja Migran Indonesia  dari Korea Selatan, uang puluhan juta per bulan bukan segalanya.

Usai menuntaskan masa kerjanya di Korea Selatan, ia memilih kembali ke kampung halamannya di Desa Tegal Maja Kabupaten Serang Banten dengan satu misi yaitu menjadi agen perubahan bagi masyarakatnya.

Selama lima tahun merantau dan bekerja di industri Korea Selatan, Ihsan tak hanya menyerap etos kerja keras, tetapi juga mengamati budaya kepemimpinan di sana. Ada satu pengalaman sederhana yang begitu membekas dalam ingatannya yaitu momen saat makan siang di tempat kerja.  

“Ketika makan prasmanan di sana, saya melihat bos dan manajer justru mengantre di barisan paling belakang. Mereka mendahulukan para pekerja operasional produksi untuk makan lebih dulu. Dari situ saya belajar, perusahaan besar bukan hanya soal bosnya, tapi bagaimana menjaga para pekerja yang menjadi aset utamanya,” kenang Ihsan  membagi pengalamannya ke Humas KP2MI beberapa waktu lalu. 

Dari Purna  Pekerja Migran Menjadi Kepala Desa

Sekembalinya ke Indonesia, potensi dan dedikasi Ihsan dilirik oleh para pemuda desa. Mereka mendorongnya untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Tegal Maja, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten.

Meski sempat menolak karena perbedaan nilai ekonomis yang sangat jauh, insentif kepala desa saat itu sekitar Rp3,7 juta dibandingkan gajinya di Korea yang bisa mencapai Rp20 juta per bulan, namun  Ihsan  tetap menerima amanat tersebut. 

Resmi menjabat sejak tahun 2019 hingga 2027 mendatang, Ihsan menjadikan jabatan ini sebagai sarana untuk memaksimalkan kebijakan dan anggaran dana desa demi kemandirian ekonomi warga.  

Menyulap Limbah Menjadi Nilai Ekonomi

Melihat latar belakang keluarganya yang berdarah pengrajin serta tingginya angka pengangguran di desa, Ihsan menginisiasi program pemberdayaan masyarakat. Berbeda dengan program pelatihan biasa yang sering kali berhenti tanpa pendampingan, Ihsan berkomitmen mengawal prosesnya dari hulu ke hilir.  

Ia memanfaatkan limbah industri berupa tali kertas yang banyak ditemukan di Desa Tegal Maja untuk didaur ulang (recycle) menjadi produk kerajinan tangan berkualitas, seperti tas (handbag) dan aneka anyaman ramah lingkungan.  

“Nenek moyang kita ini pengrajin. Kerajinan dari limbah tali kertas ini kami upgrade kualitasnya. Selain produknya unik dan ramah lingkungan, ada storytelling kuat di baliknya yaitu pemberdayaan perempuan, purna Pekerja Migran, dan upaya pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” jelasnya.

Kini, lebih dari 30 ibu-ibu dan perempuan purna Pekerja Migran di Desa Tegal Maja telah tergabung dalam kelompok binaan ini. Mereka mampu menambah penghasilan keluarga melalui karya anyaman tersebut.  

Menembus Pasar Nasional hingga Dilirik Pembeli Luar Negeri

Hasil jerih payah Ihsan dan warga Tegal Maja tak sia-sia. Melalui berbagai pameran kelas nasional seperti Inacraft dan Trade Expo Indonesia, produk kerajinan daur ulang ini berhasil menarik perhatian pasar. Bahkan dalam satu pameran, mereka mampu membukukan omzet hingga Rp20 juta sehari.

Tak hanya pasar lokal, ketertarikan juga datang dari pembeli internasional (buyer). Pembeli dari India sempat datang langsung ke desa dan memesan sebanyak 200 pieces kerajinan anyaman. Saat ini, kelompok usahanya juga sedang menjajaki uji coba permintaan ekspor ke Jepang.  

Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, organisasi pengusaha, hingga KP2MI yang turut mendukung pemberdayaan purna Pekerja Migran  ini.  

Bagi Ihsan, jabatannya sebagai Kepala Desa mungkin akan berakhir di tahun 2027, namun kepeduliannya pada kemajuan desa tidak akan pernah usai.  

“Pemberdayaan kerajinan ini sudah terikat batin dengan saya. Pengabdian tidak selalu terikat dengan jabatan. Saya akan terus berusaha untuk memberikan dedikasi yang terbaik untuk masyarakat,” pungkas Ihsan.

Tagging :