Baduy, Diantara Modernisasi dan Upaya Menjaga Kearifan Lokal

BANTEN (Mtimes) – Mayoritas suku di Indonesia memang sudah hidup modern di daerah perkotaan. Namun, tidak sedikit juga yang lebih memilih untuk tetap mempertahankan budaya nenek moyang dan hidup sederhana tanpa menyentuh kecanggihan teknologi. Beberapa suku di Indonesia bahkan memilih untuk tinggal di hutan belantara atau tempat yang jauh dari keramaian kota, dan Suku Baduy adalah salah satunya.
Baduy mengajarkan arti hidup yang sederhana. Tidak sibuk mengejar gemerlap dunia, tidak hanyut dalam keinginan untuk dipuji manusia. Mereka berjalan pelan, namun pasti. Hidup sederhana, namun penuh makna. Itulah Baduy, sebuah suku yang hingga kini masih mempertahankan budaya asli tanpa tercemar oleh derasnya budaya luar.

Aktivitas Perempuan Baduy Luar (Foto: Gunawan Indra)
Terletak di Provinsi Banten tepatnya di Kabupaten Lebak, Suku Baduy yang mendiami di pegunungan Kendeng menyimpan banyak pertanyaan. Hidup berdampingan dengan alam menjadi pemandangan yang sulit dipisahkan. Kehidupan masyarakatnya, mata pencarian dan sisi lain untuk tetap memepertahankan adat di tengah kuatnya arus modernisasi menjadi alasan tim Kopi Chat 35 untuk menjelajah lebih dalam.
Suku Baduy dikenal akan budaya, alam dan keunikan masyarakatnya yang hingga kini masih dipertahankan. Bila menelusuri jejak suku Baduy, dapat ditempuh dari Ibu Kota Jakarta sekira 160 kilometer. Bila menggunakan kendaraan roda empat ditempuh 4-5 jam, sedangkan bila menggunakan kendaraan roda dua memakan Waktu 3-4 jam perjalanan.
Nah, tim Kopi Chat kali ini mencoba menggunakan kendaraan roda dua untuk sampai kesana. Tim memulai perjalanan dari daerah Sawangan, Depok. Bersyukur cuaca cerah kala itu, perjalanan pun begitu menyenangkan. Apalagi sepanjang perjalanan tim disuguhi beragam pemandangan, mulai dari perkampungan warga, perkebunan sawit, dan tumpukan bukit hijau yang memanjakan mata siapapun yang melintas seakan terpesona akan keindahan alamnya.

Bertentun menjadi salah satu aktivitas perempuan Baduy Luar (Foto: Gunawan Indra)
Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam, akhirnya tim tiba di tugu selamat datang, yang menandakan kawasan Saba Budaya Baduy, tepatnya di desa Ciboleger atau Luar Baduy. Sebuah perkampungan yang memiliki wilayah kurang lebih 50 km persegi di hutan perbukitan Lebak, Banten. Tim Kopi Chat tidak sendiri, banyak para pelancong lainnya yang berdatangan, mulai dari turis lokal hingga mancanegara. Bukan itu saja, tim juga disuguhi hamparan lapak-lapak pedagang yang menjajakan hasil bumi dan kerajinan khas daerah yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat setempat.
Disinilah Tim Kopi Chat memulai perjalanannya menelusuri jejak masyarakat yang berada di Baduy Luar. Meskipun di luar, suasana dan kekentalan adat dan kekhasan masyarakatnya begitu terasa. Tim seperti menemukan dunia yang berbeda. Melihat budaya yang masih terjaga, bertemu orang-orang baru, dan menyaksikan cara hidup yang mungkin mulai jarang kita temukan.
Dengan jumlah penduduk kurang lebih 26,000 jiwa (Bukan angka pasti), ya seperti diketahui mereka menutup diri dan tabu didokumentasikan khusus Baduy Dalam. Suku Baduy sendiri terbagi dua, yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy luar populasinya lebih besar, mereka tinggal di beberapa kampung di Wilayah Utara. Berbeda dengan Baduy dalam yang jumlahnya lebih sedikit, terdiri dari tiga kampung yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana.

Rumah adat Baduy Luar kampung Kadu Ketuk Dua (Foto: Gunawan Indra)
Baduy Mengajarkan Kesederhanaan
Baduy mengajarkan arti hidup yang sederhana, bagaimana mereka sangat menjaga adat istiadat nenek moyang mereka. Bahkan, di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, masyarakat Baduy tetap teguh menjadi dirinya sendiri. Mereka bercengkerama di ladang, berjalan menyusuri jalan setapak, dan menggantungkan hidup pada alam yang terus mereka jaga dengan bijaksana.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan adalah rumah. Tempat kehidupan bertahan, sumber penghidupan, sekaligus warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Masyarakat Baduy tidak mengenal pupuk kimia maupun mesin pertanian modern.
Bagi masyarakat adat Baduy, cukup bukan sekadar kata, melainkan hukum hidup yang dijaga dengan kesadaran penuh. Mereka hidup dalam pikukuh adat aturan luhur yang tidak tertulis namun mengikat kuat, menjadi penuntun cara berpikir, bertindak, dan memaknai kehidupan. Di Tanah Baduy, hidup cukup adalah bentuk ketaatan pada keseimbangan semesta.
Masyarakat Baduy tidak diajarkan untuk mengejar lebih, tetapi untuk menjaga agar tidak berlebih. Prinsip hidup mereka sederhana, apa yang diambil dari alam harus secukupnya, apa yang dimiliki dijaga agar tidak melampaui batas. Dalam pandangan adat, lebih bukanlah berkah, melainkan potensi rusaknya harmoni. Karena itu, hidup cukup dipahami sebagai jalan keselamatan bagi diri, komunitas, dan alam.

Ambu Sati, pengrajin kain tenun kampung Kadu Ketuk Dua (Foto: Gunawan Indra)
Contoh hidup yang dijalankan keluarga Ambu Sati yang penghidupannya mengendalkan hasil bertenun dan berdagang madu hitam yang dibantu Sapri sang suami dengan menjual hasil tenun karya istrinya. Mereka tampak bahagia, hidup dalam satu rumah yang hanya beralas tikar, tidak ada kasur, tidak ada lampu penerang, dindingnya pun hanya berbalut anyaman bambu yang beratapkan daun pelepah kelapa.
Meskipun begitu, keluarga Ambu Sati dan Sapri begitu harmonis, terpancar dari kerut wajahnya yang tanpa beban hidup, meski jauh dari kata mewah. Bahkan dengan tetangga sekitar pun saling bahu membahu tidak ada dinding pemisah.
Mereka memang hidup di lingkungan Baduy Luar, yang berbeda dengan masyarakat Baduy Dalam. Namun demikian, mereka tetap menghormati dan patuh menjalankan aturan adat Baduy Dalam. Seperti tidak sembarang membbangun atau merenovasi rumah ada bulan tertentu yang sudah diyakin adat Baduy.
Tapi kini, di tengah derasnya arus modernisasi, Baduy Luar perlahan mulai tersentuh dunia luar, seperti penggunaan gadget (handphone) mengenal media sosial, bahkan saat berdagang mereka sudah menggunakan teknologi Qris sebagai alat pembayaran. Tidak bisa dipungkiri, kekuatan teknologi belakangan ini mampu mengoyak kekuatan adat yang selama ini dijaga betul oleh masyarakta Baduy Dalam.

Perempuan Baduy Luar dengan ciri khas kebaya hitam menggunakan motif biru (Foto: Gunawan Indra)
Dari Baduy, tim Kopi Chat belajar satu hal sederhana. Bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari kota-kota yang penuh cahaya. Mereka justru tumbuh dari tanah yang diinjak setiap hari, dari tangan yang akrab dengan lumpur, dan dari hati yang tidak rakus mengejar dunia.
Dari Baduy, tim membawa banyak pelajaran tentang kehidupan. Dan dari Baduy, tim belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur dan keseimbangan hidup.
Sebab bagi kami, Baduy bukan hanya tentang tanah adat dan tradisi yang terjaga. Baduy adalah cerita tentang kehidupan, kesederhanaan, dan kebahagiaan yang masih menemukan tempatnya di tengah perubahan zaman. (tim kopichat 35).
