Pakar Kesehatan Ungkap Bahaya Tidur di Atas Jam 12 Malam

JAKARTA (Mtimes) – Akibat tidur terlalu malam atau sering begadang secara rutin dapat menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu fungsi otak, dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Tidur terlalu larut atau tempatnya lebih dari jam 12 malam dapat mengganggu ritme sirkadian dan tahapan tidur yang penting.

Menurut Konsultan tidur dan ahli syaraf Chelsie Rohrscheib, Ph.D, dalam siaran Eating Well bahwa waktu tidur harus selaras dengan ritme sirkadian anda. “Tidur di luar jendela ini kemungkinan akan menyebabkan kualitas tidur yang buruk dan menempatkan anda pada risiko masalah kesehatan,” kata Chelsie Rohrscheib, Ph.D.

Ritme sirkadian adalah jam internal tubuh selama 24 jam. Ritme itu membantu mengatur kapan seseorang akan merasa terjaga dan kapan merasa mengantuk.

Ritme sirkadian juga membantu mengatur hormon, metabolisme, fungsi kekebalan tubuh, dan perbaikan sel. Cahaya dan kegelapan adalah dua sinyal terkuat yang membantu menjaga jam internal ini tetap sesuai jadwal.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian sirkadian kronis dapat menyebabkan risiko lebih tinggi terhadap kondisi kesehatan jangka panjang.

“Orang yang terjaga atau tidur pada jam-jam yang tidak normal memiliki risiko lebih tinggi terhadap banyak kondisi kesehatan kronis, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, dan depresi,” kata Rohrscheib.

Selain ritme tidur, siklus melatonin dan kortisol juga mungkin akan terganggu. Keduanya merupakan dua hormon yang penting untuk tidur dan keduanya mengikuti jadwal harian yang tepat.

Melatonin bertugas untuk memberi sinyal kepada tubuh untuk mengetahui kapan harus tidur. Hormon ini mencapai puncaknya pada malam hari dan menurun seiring berjalannya malam.

Sementara, dilansir dari Antaranews, kortisol yang menjadi hormon peringatan alami tubuh akan meningkat pada pagi hari untuk mempersiapkan bangun.

Tidur setelah tengah malam dapat mengganggu jadwal tidur dengan ritme alami ini, terutama jika seseorang juga terpapar cahaya terang di larut malam.

“Melatonin, yang diatur waktunya oleh sinar matahari dan mencapai puncaknya di malam hari, kini berkurang ketika anda mencoba tidur setelah tengah malam. Kadar kortisol mulai meningkat menjelang pagi. Ini adalah jam alarm alami tubuh anda,” kata psikiater dan ahli kedokteran tidur Alex Dimitriu, M.D.

Dimitriu melanjutkan tidur larut malam mengurangi tidur gelombang lambat, yang sering terjadi pada paruh pertama malam dan mengurangi nyenyak.

Mereka yang secara konsisten kekurangan tidur nyenyak cenderung bangun dengan perasaan tidak segar terlepas dari berapa lama mereka tidur. Seiring waktu, defisit ini mungkin terkait dengan gangguan fungsi kognitif dan pemulihan fisik yang lebih buruk.

Seiring waktu, tidur larut malam secara konsisten dapat mengakibatkan perkembangan gangguan tidur kronis.

“Anda berisiko lebih tinggi mengalami gangguan tidur seperti insomnia jika Anda secara teratur tidur di luar jendela sirkadian alami anda,” kata Rohrscheib.

Rohrscheib menyarankan supaya untuk mulai mempertimbangkan sejumlah kebiasaan untuk membantu mendukung kualitas tidur dan kesehatan jangka panjang.

Sejumlah kebiasaan itu seperti menjaga waktu tidur dan bangun secara konsisten, mengurangi paparan cahaya di malam hari, memaparkan diri dengan sinar matahari di pagi hari, menghindari kafein setelah pukul 3 sore serta menjaga kamar tidur tetap sejuk.

“Jika ritme sirkadian Anda tetap tidak selaras meskipun Anda telah berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya, itu mungkin menandakan masalah mendasar yang perlu didiskusikan dengan spesialis tidur,” kata Rohrscheib.

Tagging :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *