Rahasia Perawatan Kandang Sapi “Betawi Muda” di Kota Jakarta, Tak Bau & Ramah Lingkungan

JAKARTA (Mtimes) – Di tengah padatnya permukiman Jakarta Selatan, Kandang Sapi Betawi Muda hadir dengan cara yang berbeda. Sapi dimandikan dua kali sehari, diberi vitamin secara rutin, sementara pakannya dicampur ramuan khusus agar kotoran tidak menimbulkan bau menyengat. Di baliknya ada semangat “Betawi Muda, muda bergerak”.

Kesan pertama yang muncul ketika memasuki Kandang Sapi Betawi Muda di Jalan Palem 2, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, justru bukan bau khas peternakan.

Di tengah kepadatan permukiman, sapi-sapi berada di kandang yang bersih dan terawat. Pepohonan bambu di sekitar kandang membuat suasananya terasa teduh.

Pemandangan itu menjadi kontras dengan bayangan sebagian orang tentang peternakan sapi di tengah kota.

Peternak Sapi Betawi Muda, Haji Latif (kanan) (Foto: Helmi/Mtimes)

Di tempat tersebut, H. Abdul Latif merawat sapi, kambing, dan kerbau sebagai bagian dari usaha yang dirintis bersama sang kakak sejak 2016.

Dalam wawancara khusus dengan Mtimes.id di Kandang Sapi Betawi Muda, Jalan Palem 2, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9/2026), Abdul Latif menjelaskan bahwa kebersihan dan kesehatan ternak menjadi perhatian utama.

Bagi pria yang akrab disapa Bang Latif itu, merawat ternak bukan pekerjaan musiman yang baru dilakukan ketika Iduladha mendekat. Justru pada hari-hari biasa, ketika penjualan tidak seramai musim kurban, proses perawatan dan pembesaran ternak menjadi fokus utama.

“Kalau hari biasa memang pembelinya ada, tetapi tidak seramai menjelang Iduladha. Di situlah kita fokus merawat dan membesarkan ternak,” ujar Abdul Latif.

Sapi Dimandikan Dua Kali Sehari

Rutinitas perawatan dimulai dari kebersihan tubuh hewan. Sapi-sapi di Kandang Sapi Betawi Muda dimandikan dua kali sehari. Selain menjaga kebersihan, perawatan tersebut dilakukan agar hewan tetap nyaman dan kondisinya mudah dipantau.

Ternak juga diberikan vitamin kesehatan secara rutin. Kondisi fisik dan perilaku hewan diperhatikan setiap hari sehingga perubahan yang muncul dapat segera diketahui.

“Yang paling penting itu kebersihan, kesehatan hewan dan pakannya harus diperhatikan,” kata Abdul Latif.

Latar belakangnya sebagai alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) turut membuat aspek kebersihan dan kesehatan mendapat perhatian khusus dalam pengelolaan kandang.

Pakan Dicampur Ramuan Khusus

Perawatan tidak berhenti pada kebersihan tubuh dan kandang. Pakan juga menjadi bagian penting dari keseharian ternak.

Abdul Latif mengatakan, pakan ternak dicampur dengan ramuan khusus yang menjadi bagian dari pola perawatan di kandangnya. Menurut dia, ramuan tersebut membantu membuat kotoran ternak tidak menimbulkan bau menyengat.

Kebersihan kandang pun terus dijaga agar lingkungan tetap nyaman, baik bagi ternak maupun masyarakat sekitar.

Untuk kebutuhan pakan, rumput segar menjadi salah satu sumber utama. Ketika persediaan di sekitar Jakarta Selatan dan Jakarta Barat berkurang, pencarian rumput dapat dilakukan hingga kawasan Bintaro dan Serpong, Tangerang.

Menjelang Iduladha, Kandang Mulai Ramai

Kesibukan Kandang Sapi Betawi Muda meningkat beberapa pekan menjelang Iduladha.

Panitia kurban, masyarakat, hingga pembeli perorangan mulai mencari sapi, kambing maupun kerbau. Sapi limosin menjadi salah satu jenis yang tersedia, dengan bobot mulai sekitar 280 kilogram hingga mencapai satu ton.

Namun, hewan-hewan tersebut tidak disiapkan dalam waktu singkat.

Proses pemeliharaan dan pembesaran berlangsung jauh sebelum musim kurban. Karena itu, hari-hari biasa menjadi waktu penting untuk memastikan ternak tumbuh sehat dan siap ketika memasuki masa penjualan.

“Perawatannya setiap hari. Jadi bukan hanya ketika mau dijual atau menjelang Iduladha,” ujarnya.

Kerbau Menjaga Jejak Tradisi Betawi

Kerbau juga memiliki tempat tersendiri di Kandang Sapi Betawi Muda.

Bagi Abdul Latif, kerbau bukan hanya bagian dari usaha peternakan. Hewan tersebut berkaitan dengan tradisi masyarakat Betawi, terutama dalam hidangan hari raya.

“Salah satu tradisi masyarakat Betawi adalah masak semur daging kerbau untuk hari raya. Jadi saya menyediakan kerbau supaya tradisi ini tetap lestari di Jakarta,” tuturnya.

Karena itu, keberadaan kerbau di kandangnya menjadi bagian kecil dari upaya menjaga hubungan antara usaha peternakan dan tradisi Betawi.

Mengapa Namanya Betawi Muda?

Nama Kandang Sapi Betawi Muda pun memiliki cerita tersendiri.

Menurut Abdul Latif, kata “muda” menggambarkan semangat generasi muda untuk bergerak dan mencoba bidang yang mungkin selama ini tidak banyak dilirik.

“Betawi Muda itu muda bergerak. Saya ingin membangun citra Betawi dari hal yang berbeda,” katanya.

Latif mengingat, menjadi peternak dahulu bukanlah cita-cita yang banyak muncul ketika anak muda ditanya ingin bekerja sebagai apa.

Banyak yang justru membayangkan bekerja di gedung-gedung perkantoran kawasan Sudirman, Thamrin hingga Kuningan.

Padahal, Jakarta pernah memiliki kawasan yang dikenal dengan aktivitas peternakan sapi. Kuningan, misalnya, dahulu dikenal sebagai salah satu kawasan tempat masyarakat mencari susu sapi.

Seiring perkembangan kota dan pembangunan kawasan bisnis, peternakan di kawasan tersebut perlahan menghilang. Sebagian kemudian berpindah ke wilayah lain, termasuk Pondok Rangon dan sejumlah kawasan di Jakarta.

Kini, keberadaan peternakan besar di Jakarta semakin terbatas.

Kondisi itulah yang kemudian menjadi bagian dari gagasan Abdul Latif ketika memilih nama Betawi Muda. Ia ingin menunjukkan bahwa dunia peternakan tetap bisa menjadi ruang bagi generasi muda untuk bergerak sekaligus memperkenalkan citra Betawi melalui bidang yang berbeda.

Bukan Sekadar Kandang Sapi

Kandang Sapi Betawi Muda pada akhirnya bukan sekadar tempat jual beli hewan menjelang Iduladha.

Ada rutinitas panjang yang berlangsung sepanjang tahun: sapi dimandikan, kandang dibersihkan, vitamin diberikan, pakan disiapkan, kesehatan dipantau, dan ternak dibesarkan hingga siap memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dengan jumlah ternak yang pernah mencapai sekitar 200 ekor, Abdul Latif berusaha mempertahankan usaha peternakan di tengah lingkungan megapolitan.

Di Jalan Palem 2, Petukangan Utara, sebuah kandang ternak berdiri di antara rumah-rumah warga.

Dari tempat sederhana itu, “Betawi Muda, muda bergerak” tidak hanya menjadi nama, tetapi juga gagasan untuk menunjukkan bahwa tradisi Betawi dapat terus tumbuh melalui cara-cara yang berbeda. (helmi/alvuza)

Tagging :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *