Mentan Amran Bakal Tindak Tegas Mafia Pangan, Harga Telur Jadi Sorotan

JAKARTA (Mtimes) – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menduga praktik mafia pangan ikut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Ia menyoroti harga telur ayam, daging ayam, dan beras yang menjadi penyumbang inflasi pada September 2026.

Amran menilai ada kejanggalan dalam rantai distribusi pangan. Pasalnya, peternak mengeluhkan harga jual yang rendah, sementara konsumen justru harus membayar dengan harga tinggi.

“Inflasi telur ayam, ayam, beras itu yang paling menonjol. Tiga ini menonjol, tapi lucu. Harga di produsen di bawah HPP (Harga Pokok Penjualan) ketentuan pemerintah. Karena harga rendah, peternaknya demo. Tapi, dalam waktu bersamaan konsumen juga berteriak. Artinya ada middleman, ada mafia. Mafia ini kita harus beresin, ini tidak boleh toleransi lagi,” ujar Amran saat rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (12/10/2026) lalu.

Sebelumnya, sejumlah peternak ayam petelur menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Senin (12/10/2026). Mereka memprotes anjloknya harga telur yang merugikan usaha peternakan.

Menanggapi persoalan tersebut, Amran mengundang perwakilan asosiasi peternak ayam petelur ke kediamannya pada Jumat (9/10/2026). Ia ingin mendengar langsung keluhan para peternak terkait harga jual telur yang terus menekan pendapatan mereka.

Dalam pertemuan itu, para peternak mengungkapkan bahwa harga telur di tingkat produsen hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Namun, konsumen masih harus membayar sekitar Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut membuat Amran menduga ada pihak yang memainkan rantai distribusi dan mengambil keuntungan berlebihan. Pemerintah pun berencana menindaklanjuti dugaan praktik mafia pangan tersebut.

“Kami sudah menyurat ke Pak Kapolri, kami sudah sepakat beliau untuk kolaborasi, kita harus perangi. Ini tidak akan selesai kalau mafianya masih bercokol di tengah-tengah kita. Ini tidak bisa,” kata Amran.

Amran Soroti Dugaan Penipuan Beras Fortifikasi

Selain telur dan daging ayam, Amran juga menyoroti dugaan kecurangan dalam perdagangan beras. Ia menduga sejumlah produsen nakal menjual beras biasa dengan label beras fortifikasi atau beras yang diperkaya zat gizi, termasuk vitamin B12.

Beras fortifikasi ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Karena itu, pemerintah perlu memastikan produk tersebut tersedia dengan harga yang terjangkau.

Namun, Amran mengungkapkan adanya dugaan penjualan beras biasa dengan harga yang jauh lebih tinggi setelah produsen mengklaimnya sebagai beras fortifikasi.

“Tapi dijual Rp56.000 ini palsu, penipuan! Kenapa? Beras biasa harganya Rp13.500 tapi dijual Rp56.000. Untungnya berapa? Rp40.000 lebih per kilo. Dan penipuan yang dilakukan terhadap rakyat adalah Rp89 triliun untuk tahun ini. Ini kita harus beresin,” tegasnya.

Amran menilai dugaan kecurangan tersebut merugikan masyarakat. Ia pun menegaskan perlunya penindakan agar praktik serupa tidak terus membebani konsumen.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebelumnya menyoroti kenaikan inflasi pada September 2026 yang mencapai 3,28 persen. Sejumlah komoditas pangan, seperti cabai, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras, menjadi penyumbang utama kenaikan tersebut.

Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memastikan petani dan peternak memperoleh harga jual yang layak. Di sisi lain, konsumen juga membutuhkan harga bahan pokok yang terjangkau. (yudi purwanto)

Tagging :