Home

Aksi Rakyat Bela Indonesia Soroti Putusan MK-MA terkait Ijazah Gibran hingga Kasus Penyadapan Presiden

Oleh Amril Amarullah 08 Nov 2026 13:35 WIB Kategori: Aheadline

JAKARTA (Mtimes) – Ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat memadati Lapangan Hijau Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dalam aksi Aksi Rakyat Bela Indonesia (ARBI) yang digelar serentak di Jakarta dan Bandung, Ahad (8/11/2026) pagi ini.

Aksi yang dimulai sejak Shalat Subuh berjamaah dan acara puncak pukul 08.00-10.00 WIB ini dipimpin oleh Ketua Organizing Committee, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN).

Aksi ini merupakan tindak lanjut konsolidasi 24 tokoh bangsa yang berlangsung di Auditorium Universitas Al-Azhar Indonesia pada Sabtu (7/11) kemarin, yang dipimpin Ketua Pembina YPI Al-Azhar Prof. Jimly Asshiddiqie.

Hadir di lokasi antara lain Prof Jimly Asshiddiqie, Presiden Syarikat Islam Ferry Juliantono, Ketua Umum Wahdah Islamiyah KH Muhammad Zaitun Rasmin, Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief, Ketua Umum Al-Irsyad Al-Islamiyyah Faisal bin Madhi, Anggota DPR Kamrussamad, dan aktivis Said Didu.

5 Tuntutan Utama Aksi Rakyat Bela Indonesia

Dalam orasinya, UBN membacakan lima tuntutan yang menjadi landasan gerakan, yang juga menjadi simbol lima jari gerakan ini:

1. Rakyat bersatu untuk membela Indonesia.
2. Rakyat bersatu melawan pengkhianat bangsa dan negara.
3. Rakyat bersatu melawan oligarki dan negara-negara asing yang menjadi pelindung oligarki.
4. Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 secara penuh dan konsisten – agar kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, bukan kelompok tertentu.
5. Penegakan hukum sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA) secara konsisten – termasuk mendesak tindak lanjut putusan terkait polemik dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Soroti Kasus Penyadapan Ilegal

UBN secara khusus menyoroti kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo dan lebih dari 6.000 tokoh nasional, termasuk jurnalis, akademisi, aktivis, ormas sipil, media, hingga pejabat Polri sendiri, yang kini menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka.

“Ini persoalan kedaulatan negara. Tidak boleh ada ruang bagi praktik abuse of power,” tegas UBN. Ia menegaskan aksi ini terbuka untuk semua elemen, tidak terbatas pada umat Islam.

Ferry Juliantono selaku Ketua Steering Committee menambahkan, panitia telah berkomunikasi dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan PBNU untuk menggalang dukungan yang lebih luas. Aksi ini, menurutnya, akan menjadi pemanasan menuju aksi yang lebih besar pada 10 November mendatang.

Di saat bersamaan, aksi serupa juga digelar di Masjid Al-Jabbar, Bandung, dengan tuntutan yang sama.