Akbar Faizal Ungkap Penyadapan Listyo Sigit: 6.000 Nomor Disadap, Tak Ada Geng Solo dan Keluarga Jokowi

JAKARTA (Mtimes) – Mantan wartawan senior sekaligus politisi, Akbar Faizal, membuat pengakuan mengejutkan terkait kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Akbar menyebut dirinya sendiri menjadi korban dan masuk dalam daftar lebih dari 6.000 nomor HP yang diduga disadap oleh kelompok jenderal tersebut.

Hal itu ia ungkap dalam channel YouTube pribadinya Akbar Faizal Uncensored pada Jumat (6/11/2026).

“Saya baru saja mendapatkan informasi, lebih dari 6.000 nomor ikut tersadap, mulai dari presiden, pejabat publik, bahkan petinggi Polri bersama istrinya disadap. Lucunya adalah nama-nama yang terafiliasi dengan mantan presiden (Jokowi), tidak ada namanya di dalam daftar penyadapan itu,” kata Akbar.

“Saya ulangi, 6.000 lebih nomor, termasuk nomor saya. Saya mempertanggungjawabkannya, sebab saya mendapatkan informasi yang memang layak,” tegasnya.

Daftar Korban: Dari Presiden Hingga Pejabat Polri Sendiri

Menurut sumber eksklusif yang telah melihat langsung dokumen daftar sadap tersebut, data itu tersusun dalam dokumen tebal berisi nama, nomor telepon, serta jabatan atau profesi masing-masing.

Selain Akbar Faizal, sejumlah nama lain yang disebut masuk dalam daftar adalah:

  • Akademisi hukum tata negara Feri Amsari
  • Dosen FH UGM Zainal Arifin Mochtar
  • Bahkan pejabat Polri sendiri, Kabaintelkam Polri Komjen Dedy Kusuma Bakti beserta istrinya

“Sampai pejabat kepolisian juga kena sadap, kurang ajar sekali,” ungkap sumber itu kepada http://Afu.id, Kamis (5/11).

Tidak Ada Nama Keluarga Jokowi

Poin yang paling disoroti Akbar adalah tidak adanya satu pun nama yang terafiliasi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

“Sudah fix, tidak ada nama Jokowi, keluarganya, maupun kroni-kroninya di daftar itu,” kata sumber tersebut. Tidak ada nama Gibran, Kaesang, Kahiyang, Pratikno, dan tokoh yang selama ini dikenal sebagai lingkar Jokowi.

Hal ini membuat Akbar menilai kasus ini adalah operasi politik.

“CLEAR! INI OPERASI POLITIK. 6000-AN NO HP TERSADAP GENG LISTYO. TAK ADA KELUARGA JOKOWI & KRONINYA,” tulis judul podcast-nya.

Pelajaran untuk Penguasa

Dalam cuitannya terpisah pada 6 November, Akbar juga menyoroti ironi kasus ini sebagai pelajaran bagi penguasa. Ia menyebut Listyo Sigit yang dulu memimpin Polri dengan kewenangan besar, kini harus duduk di kursi pemeriksaan etik Propam yang pernah ia kendalikan.

“Besok, bekas Kapolri yang juga operatornya & baru saja dicopot beberapa hari lalu akan duduk di kursi pemeriksaan pelanggaran etik Propam Mabes Polri yang pernah dia kendalikan seenaknya,” tulis Akbar.

Ia juga menyebut Listyo bersama dua jenderal binaannya, Irjen Ahrie Sonta dan Irjen Eko Hadi Santoso, berpotensi dikenakan PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat) atas tuduhan makar dan pengkhianatan, serta potensi penarikan seluruh pangkat dan tanda kehormatan negara.

“Sebuah pelajaran sangat mahal untuk mereka yang sedang memegang kekuasaan: Jangan seenaknya!!” pungkasnya.

Untuk diketahui, Bareskrim Polri telah menetapkan 4 tersangka dalam kasus penyadapan ilegal periode 2025-2026 melalui sistem Lawful Interception Management System (LIMS) Polri, yakni Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, Irjen Eko Hadi Santoso, dan Irjen Slamet Uliandi.

Tagging :