BI Siapkan Strategi Tarik Dana Asing Kembali ke Pasar Keuangan Indonesia
Destry mengatakan, BI terus memantau arus modal asing yang keluar atau capital outflow setelah perkembangan terkait MSCI. Meski rupiah mendapat tekanan, BI menilai kondisi pasar masih relatif normal, terutama karena pasar keuangan regional juga menghadapi situasi yang kurang kondusif.
“Kami melihat bahwa tekanan masih dalam relatif normal karena regional tidak baik. Kami waspadai di capital market kita, kami monitor outflow sepanjang pergerakan yang terjadi setelah MSCI,” ujar Destry.
Ia menjelaskan, BI telah menggelar pembahasan intensif selama dua hari untuk merespons perkembangan tersebut. Bank sentral juga menyiapkan langkah yang lebih terarah atau targeted untuk menarik kembali arus modal masuk (inflow) ke pasar keuangan Indonesia.
Menurut Destry, BI memprioritaskan stabilitas pasar keuangan tanpa mengabaikan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Concern stabilitas prioritas kami. Fokus kami adalah mendatangkan inflow kembali,” tegasnya.
BI Perkuat Insentif untuk Investor Asing
Untuk menarik kembali dana asing, BI mengoptimalkan berbagai insentif bagi investor yang menempatkan dana di aset keuangan domestik. Insentif ini mencakup investasi pada Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pendanaan dalam bentuk pinjaman.
Salah satu instrumen yang BI optimalkan adalah insentif transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Insentif ini dapat menekan biaya lindung nilai (hedging) investor hingga 45%.
Destry menjelaskan, BI telah menerapkan insentif tersebut sejak Juni hingga Oktober. Bank sentral berharap penguatan insentif dapat meningkatkan daya tarik investasi di aset domestik bagi investor asing.
Menurutnya, penyesuaian harga atau repricing di pasar obligasi pemerintah, ditambah insentif yang lebih besar, dapat membuat imbal hasil aset keuangan Indonesia semakin kompetitif dibandingkan aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).
“Harapan bahwa pasar domestik kita terjadi repricing di SBN, kemudian ditambah insentif diperbesar, akan membuat spread aset domestik dengan USD menjadi menarik. Kami fokus dan targeted mendatangkan inflow,” jelasnya.
BI berharap strategi tersebut dapat mendorong aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Penurunan GWM Tambah Likuiditas Rp190 Triliun
Selain memperkuat insentif bagi investor, BI juga mengoptimalkan kebijakan likuiditas untuk mendukung perekonomian domestik.
Destry menyebut penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2% berpotensi menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun. Tambahan likuiditas ini dapat mendukung aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat transmisi kebijakan moneter.
“Termasuk penurunan GWM 2% akan ada likuiditas Rp 190 triliun. Jadi kita berusaha untuk mengoptimalkan kebijakan yang kami miliki,” katanya.

