Media Sosial dan Terganggunya Kesehatan Mental Generasi Muda Akibat Scroll Berlebihan

JAKARTA (Mtimes) – Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Di balik kemudahan berkomunikasi dan akses hiburan, penggunaan yang berlebihan dapat berkaitan dengan perubahan pola tidur, menurunnya kesejahteraan psikologis, hingga kecenderungan mengabaikan aktivitas lain yang seharusnya dilakukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat adanya peningkatan penggunaan media sosial yang bermasalah di kalangan remaja. Dalam laporan WHO Eropa pada 2024, proporsinya meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada 2022 berdasarkan survei terhadap hampir 280 ribu anak dan remaja berusia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah.

Penggunaan bermasalah ditandai antara lain dengan kesulitan mengendalikan penggunaan media sosial, mengabaikan aktivitas lain, serta munculnya dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar juga dapat memengaruhi rutinitas harian. Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan Journal of Affective Disorder pada 2024 menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial, kesehatan mental, dan pola tidur pada kelompok usia muda. WHO juga mencatat bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan waktu tidur yang lebih sedikit dan kebiasaan tidur lebih larut.

Kondisi tersebut dapat membuat sebagian anak muda lebih mudah menunda pekerjaan, mengurangi aktivitas fisik, atau memilih tetap berada di depan layar dibandingkan menyelesaikan kegiatan sehari-hari. Namun, penggunaan media sosial tidak dapat secara langsung dianggap sebagai satu-satunya penyebab munculnya rasa malas.

WHO menegaskan bahwa hubungan antara penggunaan teknologi dan kesehatan mental bersifat dua arah, sehingga kondisi psikologis seseorang juga dapat memengaruhi pola penggunaan media sosialnya.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga menyoroti pentingnya kesehatan mental pada kelompok usia muda. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 yang dikutip Kemenkes menunjukkan sekitar 15,5 juta atau 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental.

Kemenkes turut mengingatkan bahwa media sosial dapat membawa manfaat, tetapi penggunaan yang tidak sehat berpotensi menimbulkan persoalan seperti perbandingan sosial, rasa tidak puas terhadap diri sendiri, dan tekanan akibat interaksi di dunia maya.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa lama generasi muda menggunakan media sosial, tetapi bagaimana penggunaan tersebut memengaruhi keseimbangan kehidupan sehari-hari. Mengatur waktu layar, menjaga pola tidur, tetap aktif secara fisik, serta menyediakan waktu untuk berinteraksi secara langsung dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. (alvuza faturrahman)

Tagging :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *