Kasus Dugaan Pelecehan di Pesantren Terjadi Lagi, Modusnya Berkedok Rukiah
BEKASI (Mtimes) – Kasus dugaan pelecehan terhadap santriwati di salah satu pondok pesentren di Kota Bekasi, Jawa Barat kembali terjadi. Modus operandi bujuk rayu ritual rukiah.
Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota tengah kasus pelecehan seksual tersebut. Kasi Humas Polres Metro Bekasi Kota Suparyono menyatakan terduga pelaku melancarkan aksinya terhadap para korban dengan berpura-pura melakukan prosesi rukiah.
“Modusnya bujuk rayu untuk rukiah,” kata Suparyono saat dikonfirmasi di Bekasi, Senin, seperti dlansir dari Antaranews.
Suparyono menjelaskan berdasarkan data sementara yang dihimpun oleh tim penyidik, seluruh korban yang terdata dan melaporkan kejadian tersebut berjenis kelamin perempuan.
Terkait dugaan keterlibatan tiga orang lainnya berinisial HBH, F, dan S, pihak kepolisian mengonfirmasi status ketiganya hingga saat ini masih dalam tahap pendalaman dan penyelidikan lebih lanjut oleh tim penyidik.
“Sementara masih didalami oleh penyidik dan masih dalam proses penyelidikan,” kata Suparyono.
Pihak kepolisian masih terus mengumpulkan bukti-bukti serta keterangan saksi guna menentukan status hukum para pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.
Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pelayanan Perempuan dan Orang (PPO) Polres Metro Bekasi Kota sebelumnya menetapkan pria berinisial MHH (28) sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati di wilayah Bekasi Selatan.
Kasat Reserse PPA dan PPO Polres Metro Bekasi Kota Kompol Rosdiana Sirait mengatakan tersangka yang berprofesi sebagai guru tersebut telah menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik pada Jumat (9/10).
Berdasarkan hasil penyidikan, MHH telah ditetapkan sebagai tersangka. Kami mendalami dugaan perbuatannya, termasuk hubungan yang bersangkutan dengan korban serta kedudukannya di lingkungan pesantren,” kata Rosdiana di Bekasi, Jumat.
Tersangka telah mengenal salah satu korban sejak tahun 2023 saat korban masih menempuh pendidikan di pondok pesantren tersebut.
Korban juga menyebutkan bahwa MHH memiliki kedudukan sebagai ketua pondok pesantren.

