The Jansen Selipkan Kritik Sosial di Synchronize Fest 2026, dari Sulit Cari Kerja hingga Karhutla

JAKARTA, (Mtimes) – Band punk asal Bogor, The Jansen, membawa kritik sosial dan pesan solidaritas ke panggung hari pertama Synchronize Fest 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Lewat penampilannya, The Jansen menyoroti sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari sulitnya mencari pekerjaan meski sudah mengantongi ijazah hingga pentingnya menjaga perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

The Jansen membuka penampilan di Forest Stage pada pukul 19.00 WIB dengan membawakan lagu “terima kasih telah menyinari hidupku yang tak sempurna” dari album Romantisasi Impulsif. Album tersebut menjadi penutup trilogi album mereka.

“Selamat malam Synchronize, kami The Jansen,” sapa Tata kepada para Warga-Wargi, sebutan bagi penonton Synchronize Fest.

Sebagai band yang kerap menyuarakan keresahan masyarakat, The Jansen tidak sekadar mengajak penonton bernyanyi bersama. Mereka juga menyisipkan kritik terhadap persoalan sosial yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Setelah menyampaikan kritik soal ketenagakerjaan, The Jansen melanjutkan penampilan dengan lagu “berkelana dalam ruang dan waktu” yang dirilis pada 2023. Mereka kemudian membawakan “Kau Pemeran Utama di Sebuah Opera”, salah satu lagu populer dari album Banal Semakin Binal (2022).

Tak berhenti di situ, The Jansen juga memanfaatkan visual panggung untuk menyampaikan pesan lingkungan dan kemanusiaan. Salah satunya melalui tulisan “Don’t Lose Focus On Karhutla” yang tampil di layar panggung.

Pesan tersebut mengajak penonton agar tidak melupakan persoalan karhutla, termasuk kebakaran yang terjadi di Kalimantan. Di tengah riuhnya festival musik, The Jansen mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tetap membutuhkan perhatian bersama.

Lewat panggung Synchronize Fest 2026, The Jansen menunjukkan bahwa musik punk bukan cuma soal distorsi gitar dan energi yang meledak-ledak. Musik juga bisa menjadi ruang untuk menyuarakan keresahan, menyampaikan kritik, dan mengajak publik lebih peduli terhadap persoalan di sekitarnya. (Yudi Purwanto)

Tagging :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *