Penyebab Generasi Sekarang Mudah Stres? Simak Penjelasan Ahli
JAKARTA (Mtimes) – Fenomena stres di kalangan generasi muda semakin menjadi perhatian di tengah kehidupan yang serba cepat dan tuntutan sosial yang terus meningkat. Tekanan akademik, persaingan karier, kondisi ekonomi, hingga paparan media sosial dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental anak muda saat ini.
Kondisi tersebut bukan semata-mata menunjukkan bahwa generasi sekarang lebih lemah dalam menghadapi masalah. Secara medis, stres merupakan respons alami tubuh ketika seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang dianggap mengancam.
Namun, ketika tekanan berlangsung terus-menerus dan kemampuan seseorang untuk mengatasinya tidak mencukupi, stres dapat mengganggu kesehatan fisik maupun psikologis.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan emosional dan sosial. Pada tahap ini, perubahan fisik, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, pengalaman buruk, serta kondisi keluarga dan sosial dapat memengaruhi kesehatan mental.
WHO juga memperkirakan satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia mengalami kondisi kesehatan mental. Meski demikian, angka tersebut mencakup berbagai gangguan mental dan bukan berarti seluruhnya disebabkan oleh stres.
Salah satu faktor yang dapat memicu stres adalah tekanan untuk mencapai standar keberhasilan tertentu. Mahasiswa, misalnya, menghadapi tuntutan memperoleh nilai yang baik, menyelesaikan tugas, mengikuti kegiatan organisasi, serta mempersiapkan karier.
Di sisi lain, mereka juga dapat merasa tertinggal ketika membandingkan pencapaian diri dengan teman sebaya. Ketika berbagai tuntutan tersebut muncul bersamaan, seseorang bisa mengalami kelelahan emosional dan kesulitan mengelola waktu maupun pikirannya.
Pengaruh Media Sosial
Media sosial juga menjadi bagian dari fenomena ini. Paparan terhadap pencapaian, penampilan, gaya hidup, dan aktivitas orang lain dapat mendorong perbandingan sosial. Selain itu, penggunaan media sosial yang bermasalah dapat berkaitan dengan berkurangnya kualitas tidur dan menurunnya kesejahteraan psikologis.
WHO Eropa menegaskan bahwa hubungan antara teknologi digital dan kesehatan mental bersifat kompleks: penggunaan teknologi dapat membawa manfaat, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif pada kelompok tertentu. Karena itu, media sosial tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab stres pada generasi muda.
Faktor ekonomi dan ketidakpastian masa depan turut memperberat tekanan yang dirasakan anak muda. Survei Stress in America yang diterbitkan American Psychological Association (APA) pada 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 18–34 tahun di Amerika Serikat memiliki rata-rata tingkat stres yang dilaporkan sebesar 6 dari 10. Kelompok ini juga banyak melaporkan persoalan kesehatan dan keuangan sebagai sumber stres.
Tekanan Ekonomi
Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai tekanan yang dihadapi orang dewasa muda, meskipun hasil survei Amerika Serikat tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh generasi muda di Indonesia.
Dari sisi medis, stres berkepanjangan dapat memengaruhi pola tidur, konsentrasi, suasana hati, dan kondisi tubuh. Seseorang mungkin mengalami sakit kepala, ketegangan otot, kelelahan, mudah marah, atau kesulitan berkonsentrasi.
Respons stres yang berlangsung terus-menerus juga dapat mengganggu kesejahteraan secara keseluruhan. Namun, gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mental karena penyebabnya dapat beragam dan perlu dinilai sesuai kondisi individu.
Untuk mengurangi dampaknya, generasi muda perlu membangun kebiasaan tidur yang cukup, melakukan aktivitas fisik, membatasi penggunaan media sosial jika mulai mengganggu keseharian, serta mencari dukungan dari keluarga, teman, atau tenaga profesional.
Jika stres terus berlangsung, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai kecemasan dan suasana hati yang memburuk, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan merupakan langkah yang tepat.
Pada akhirnya, fenomena stres di kalangan generasi muda perlu dipahami melalui faktor biologis, psikologis, dan sosial, bukan dengan memberi label bahwa mereka terlalu sensitif.
Meningkatkan kesadaran kesehatan mental, menyediakan lingkungan yang suportif, dan mempermudah akses terhadap bantuan profesional menjadi langkah penting agar anak muda mampu menghadapi tekanan tanpa mengabaikan kesehatannya. (Alvuza Faturrahman)

