Kurangi Sampah ke Bantargebang, Jakarta Perkuat Pemilahan dari Rumah, Ini Sarana yang Disiapkan
JAKARTA (Mtimes) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya dengan mendorong masyarakat memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah. Salah satu langkah yang dilakukan melalui Program Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Program ini diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Sampah yang masih memiliki nilai guna diharapkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Penyediaan sarana pengolahan perlu dibarengi perubahan perilaku masyarakat agar pemilahan sampah dapat dilakukan secara konsisten.
“Setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan dengan memilahnya sejak dari rumah. Sampah yang masih dapat diolah perlu dipisahkan agar bisa dimanfaatkan kembali, sehingga tidak semuanya berakhir di TPST Bantargebang,” ujar Purwanti di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Gerobak motor listrik hingga komposter dibagikan
Salah satu pelaksanaan program KSBB Lingkungan klaster Persampahan berlangsung di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dalam kegiatan tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) memberikan dukungan berupa sarana pengangkutan dan pengolahan sampah untuk membantu meningkatkan pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.
Bantuan yang diberikan meliputi dua gerobak motor listrik, tujuh tong komposter berkapasitas 200 liter, serta satu mesin pengayak kompos dengan kapasitas 100–150 kilogram per jam.
Selain itu, BRI Finance menyediakan 145 ember berkapasitas 8 liter, 10 ember berkapasitas 20 liter, 11 tong berkapasitas 60 liter, dan lima tempat sampah berkapasitas 120 liter.

Tak hanya berfokus pada penyediaan peralatan, program ini juga mencakup pelatihan pemilahan sampah bagi anak-anak dan remaja. Edukasi tersebut ditujukan untuk menanamkan kebiasaan mengelola sampah sejak dini sehingga kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh di tengah masyarakat.
Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, mengatakan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Melalui partisipasi dalam KSBB Lingkungan, perusahaan berharap bantuan yang disalurkan dapat mendukung pekerjaan petugas kebersihan sekaligus meningkatkan peran aktif warga dalam mengelola sampah rumah tangga.
“Kami berharap sarana dan prasarana yang diberikan dapat mempermudah sekaligus mempercepat pekerjaan petugas kebersihan di lapangan, serta mendorong warga membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah,” kata Ignatius.
Dorong perubahan pola pengelolaan sampah
Upaya penguatan pengelolaan sampah dari rumah tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Kebijakan ini mendorong perubahan pola penanganan sampah yang selama ini berorientasi pada kumpul, angkut, dan buang menjadi pilah, angkut, dan olah.
Dengan pendekatan tersebut, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
Menurut Purwanti, KSBB Lingkungan menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik. Kontribusi yang diberikan tidak terbatas pada bantuan peralatan, tetapi juga mencakup pendampingan dan edukasi kepada masyarakat.
Artinya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana, tetapi juga oleh kebiasaan warga dalam memilah sampah setiap hari.
Lurah Srengseng Sawah, Sunardi, mengapresiasi dukungan tersebut karena dinilai membantu memenuhi kebutuhan pengelolaan sampah di wilayahnya.
Ia berharap keberadaan sarana pendukung di RW 06 dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah secara mandiri.
“Dengan pemilahan yang dilakukan secara konsisten, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diolah dan dimanfaatkan kembali oleh warga, sehingga pengelolaan sampah di tingkat RW menjadi lebih optimal,” ujar Sunardi.
Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Pemprov DKI Jakarta mendorong agar pemilahan sampah menjadi kebiasaan yang dimulai dari setiap rumah. Dengan demikian, pengurangan beban TPST Bantargebang dapat dilakukan dari sumbernya, bukan hanya mengandalkan penanganan sampah setelah terkumpul.

