OMC Bikin Udara Jakarta Lebih Sejuk saat JRF 2026, Begini Data Kualitas Udara di Lima Wilayah

JAKARTA (Mtimes ) – Udara Jakarta terasa lebih sejuk pada hari pertama penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10/2026). Di tengah ribuan pelari yang memadati lintasan, konsentrasi sejumlah polutan di lima wilayah Jakarta juga terpantau menurun pada pagi hari.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyebut kondisi tersebut sejalan dengan upaya pengendalian kualitas udara melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan sejak 21 Oktober 2026. Meski demikian, penurunan polutan tidak serta-merta dapat dikaitkan sepenuhnya dengan operasi tersebut karena kondisi meteorologi dan sumber emisi lokal turut memengaruhi kualitas udara.

Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU), konsentrasi partikel halus PM2,5, partikel PM10, dan sulfur dioksida (SO₂) cenderung menurun pada Sabtu pagi, terutama dalam rentang pukul 04.00 hingga 07.00 WIB.

Di Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB tercatat berada pada kisaran 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut berada di bawah baku mutu 55 µg/m³ yang disebutkan dalam laporan DLH DKI Jakarta.

Sementara itu, wilayah pesisir Jakarta Utara mencatat konsentrasi PM2,5 pada kisaran 9–17 µg/m³ selama pukul 04.00–07.00 WIB. Tren penurunan juga terpantau di Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.

Di Jakarta Pusat, konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada pagi hari berada dalam kisaran 12–43 µg/m³.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, hasil pemantauan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan perbaikan kualitas udara di lima wilayah Jakarta. Namun, diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar kontribusi OMC terhadap perubahan konsentrasi polutan.

“Pemantauan SPKU menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Jakarta pada Sabtu pagi. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor meteorologi, termasuk kemungkinan kontribusi OMC,” ujar Dudi.

Menurut dia, analisis lanjutan diperlukan untuk memastikan pengaruh masing-masing faktor sekaligus melihat apakah perbaikan kualitas udara tersebut dapat bertahan.

OMC dan water mist dukung kenyamanan pelari

Upaya menciptakan kondisi udara yang lebih nyaman dilakukan Pemprov DKI Jakarta menjelang hingga berlangsungnya JRF 2026. Ajang lari yang digelar pada 24–25 Oktober tersebut diikuti lebih dari 37.000 peserta dari 48 negara.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan, OMC dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan sehingga dapat membantu menciptakan kondisi lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, sesuai harapan, pada hari pertama Jakarta Running Festival kondisi udara Jakarta terasa lebih nyaman. Kami terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG agar pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara tepat sasaran,” kata Marulitua.

Berdasarkan laporan BPBD DKI Jakarta, OMC telah dilaksanakan melalui empat sorti penerbangan pada 21–23 Oktober 2026. Operasi tersebut menggunakan pesawat PK-SNH dengan bahan semai natrium klorida (NaCl).

Penyemaian dilakukan di kawasan Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan. Dalam periode yang sama, hujan dengan intensitas bervariasi juga tercatat di sejumlah wilayah sekitar Jakarta.

Pada Jumat (23/10/2026), hujan ringan hingga sedang terjadi di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.

Hujan berpotensi membantu mengurangi partikel di atmosfer melalui proses deposisi basah atau wet deposition. Meski demikian, hubungan antara pelaksanaan OMC, kejadian hujan, dan perubahan kualitas udara tetap perlu dianalisis berdasarkan data meteorologi dan pemantauan lingkungan.

Selain modifikasi cuaca, Pemprov DKI Jakarta mengerahkan penyemprotan kabut air atau water mist di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan JRF 2026.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Penyemprotan ditujukan untuk membantu menyejukkan lingkungan di sekitar lintasan dan meningkatkan kenyamanan para pelari.

Pelari rasakan udara lebih adem

Kondisi udara yang terasa lebih sejuk turut dirasakan peserta JRF 2026. Dwi, peserta asal Jakarta Selatan, mengaku dapat menikmati suasana perlombaan dengan lebih nyaman pada Sabtu pagi.

Menurut dia, udara yang relatif sejuk serta penyemprotan air di sejumlah titik membantu pelari menghadapi kondisi di lintasan, terutama ketika jumlah peserta bertambah dan matahari mulai meninggi.

“Pagi ini udaranya lumayan adem, jadi lebih enak buat lari. Tadi juga ada penyemprotan air di beberapa titik. Cukup membantu, apalagi kalau sudah mulai ramai dan matahari naik,” tutur Dwi.

BPBD DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan cuaca untuk mengevaluasi langkah penanganan berikutnya.

Pemantauan tersebut dilakukan guna mendukung kenyamanan peserta dan kelancaran JRF 2026 hingga hari kedua, Minggu (25/10/2026).

Di tengah upaya menghadirkan udara yang lebih nyaman bagi para pelari, evaluasi berbasis data tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas berbagai langkah pengendalian polusi, termasuk OMC dan penyemprotan water mist, dalam menjaga kualitas udara Jakarta.

Tagging :