Review Film Laut Bercerita: Ketika Kepulangan Menjadi Harapan yang Tak Kunjung Datang
JAKARTA, (Mtimes) – Laut Bercerita mengisahkan penantian panjang sebuah keluarga yang terus berharap orang terkasih mereka pulang. Di balik cerita perjuangan mahasiswa melawan kekuasaan, film ini menghadirkan luka kehilangan yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.
Film garapan sutradara Yosep Anggi Noen ini mengadaptasi novel berjudul sama karya Leila S. Chudori. Sejumlah aktor ternama turut membintangi film ini, antara lain Reza Rahadian, Yunita Siregar, Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, dan Eva Celia.
Sinopsis Film Laut Bercerita
Cerita bermula dari ruang diskusi mahasiswa. Biru Laut Wibisono (Reza Rahadian) bersama kelompok studi Winatra akhirnya turun ke jalan untuk memperjuangkan kebebasan berpendapat dan hak rakyat kecil.
Namun, penguasa menganggap keberanian mereka sebagai ancaman. Sebuah pengkhianatan kemudian menghancurkan pergerakan tersebut. Laut dan sejumlah rekannya mengalami penculikan, penyekapan, hingga penyiksaan di sebuah tempat tersembunyi.
Ketika beberapa aktivis akhirnya kembali, Laut dan sejumlah kawan dekatnya justru menghilang tanpa jejak. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Kedua orang tuanya bahkan tetap menyediakan satu piring kosong setiap kali makan bersama. Mereka masih berharap Laut suatu hari pulang ke rumah.
Review Film Laut Bercerita
Sekilas dari cuplikannya, Laut Bercerita tampak seperti film tentang perjuangan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah yang berkuasa. Ceritanya juga seolah mengajak generasi muda untuk tidak takut menyuarakan kebenaran.
Namun, setelah menyaksikan film secara utuh, penonton akan menemukan cerita yang jauh lebih dalam. Film ini tidak hanya mengkritik kekuasaan pada masa itu, tetapi juga mengajak kita memahami luka yang ditinggalkan oleh penghilangan paksa.
Salah satu kekuatan film ini terletak pada gambaran sebuah keluarga yang terus menunggu kepulangan anak sulungnya. Mereka menjalani hari demi hari dengan sabar, meski tidak pernah tahu apakah penantian itu akan berakhir bahagia.
Penantian tersebut membangun kegelisahan sepanjang film. Penonton ikut berharap Laut bisa kembali dengan selamat. Namun, harapan itu terus berhadapan dengan kenyataan pahit yang perlahan terungkap.
Suasana semakin emosional ketika film memperlihatkan perjuangan Laut dan kawan-kawannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran aparat. Negara yang seharusnya melindungi warganya justru menjadi sumber ketakutan dan trauma bagi mereka.
Film ini juga memberi ruang bagi penonton untuk mengenal isi pikiran dan perasaan Laut. Melalui narasi dan perjalanan karakternya, penonton seolah duduk berhadapan dengannya, mendengarkan kegelisahan, ketakutan, dan harapan yang ia simpan.
Di tengah cerita yang penuh tekanan, Laut Bercerita juga menghadirkan kisah asmara antara Laut dan Ratih Anjani. Hubungan mereka memberi sentuhan hangat di antara rangkaian peristiwa yang menyedihkan.
Selain itu, persahabatan kelompok Winatra menjadi elemen penting dalam cerita. Kebersamaan mereka memperlihatkan bahwa perjuangan tidak hanya tumbuh dari keberanian, tetapi juga dari rasa saling percaya dan solidaritas.
Sesekali, film ini menyelipkan candaan yang terasa ringan, bahkan sedikit garing. Namun, momen tersebut justru memberi jeda di tengah cerita yang emosional.
Pada akhirnya, Laut Bercerita bukan hanya mengajak penonton mengingat perjuangan mahasiswa pada masa lalu. Film ini juga mengingatkan bahwa di balik setiap orang yang hilang, ada keluarga yang terus menunggu, menyimpan harapan, dan berusaha berdamai dengan ketidakpastian.

