Buka Geospatial Summit 2026, Menteri Jumhur: Carbon Capture Storage Peluang Bisnis Masa Depan

JAKARTA (Mtimes) – Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengatakan, pemanfaatan teknologi geospasial sangat penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional, menjalankan transisi energi, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Saya rasa ini inisiatif yang sifatnya proaktif dalam merespon pentingnya lingkungan dalam setiap pengambilan keputusan, keputusan bisnis, keputusan investasi tentunya,” kata Menteri Jumhur di Acara Pertamina Geospatial Summit 2026: “Geospatial Synergy for Sustainable Value Creation”, di Ballroom Grha Pertamina, Jakarta, 5 November 2026.
Menurut Menteri Jumhur, pemerintah menyambut baik langkah Pertamina menjadi frontier atau di depan dalam urusan seperti ini. Informasi Biospasial ini penting juga untuk bisnis yang berkaitan dengan lingkungan hidup, khususnya carbon capture storage.

Menteri Jumhur mengungkapkan, bisnis carbon capure storage merupakan bisnis hari ini dan bisnis masa depan dengan nilai yang positif besar. Karena Indonesia itu punya comparative advantage yang diberikan Tuhan banyak celah-celah atau basin-basin di bumi Indonesia yang bisa menjadi kontainer bagi CO2 yang dihasilkan oleh berbagai negara.
“Jadi, dari berbagai negara mungkin saja nanti ada yang minta tolong pak, saya limbah CO2 lah, tolong dibuang, dibasin. Ini satu untung yang besar, dan saya ingin Pertamina berada di depan dalam bisnis ini. Ini the future bisnis pak, is the future bisnis. Ini bisnis yang sangat besar,” kata Menteri Jumhur.
Menurut Jumhur, perkembangan teknologi geospasial saat ini telah jauh berkembang. Informasi geospasial tidak lagi sekadar alat pemetaan lokasi infrastruktur dan kegiatan usaha semata, melainkan telah menjadi instrumen krusial yang dihubungkan dengan kondisi ekosistem, risiko bencana, perubahan iklim, hingga kehidupan masyarakat.
Menteri Jumhur menjelaskan, kegiatan energi dan lingkungan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Pembangkit listrik, jaringan pipa, hingga kilang dan fasilitas distribusi energi membutuhkan ruang serta berdampak langsung pada penggunaan lahan dan tata air. Sebaliknya, perubahan lingkungan juga mengancam keamanan dan keberlanjutan infrastruktur energi.

Menteri Jumhur juga mengingatkan pentingnya memasukkan unsur adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan investasi dan pengelolaan aset energi. Berdasarkan National Adaptation Plan Indonesia 2026-2030 menuju 2035, pemerintah telah menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu dari lima prioritas adaptasi nasional bersama ketahanan pembangunan, air, kesehatan, dan ekosistem.
“Kajian iklim nasional memproyeksikan Indonesia akan menghadapi peningkatan suhu, cuaca ekstrem, hingga kenaikan muka air laut yang dapat mengganggu operasional fasilitas energi di berbagai wilayah, termasuk kawasan pesisir,” kata Menteri Jumhur.
Untuk mengantisipasi hal ini, kata Menteri Jumhur, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terus memperkuat tata kelola informasi geospasial tematik lingkungan melalui Peraturan Menteri LH No. 18 Tahun 2025 guna mendukung kebijakan satu peta lintas sektor.
Menteri Jumhur juga menyambut baik peluang sinergi dan kerja sama strategis dengan Pertamina dalam mengintegrasikan informasi lingkungan dan energi, khususnya dalam pengembangan pemetaan risiko iklim.
Menteri Jumhur membeberkan potensi bisnis masa depan yang sangat menjanjikan bagi Pertamina, yakni pengelolaan Carbon Capture Storage (CCS) berbasis data geologis dan geospasial Indonesia.

Menurut Menteri Jumhur, injeksi karbon ke dalam perut bumi atau basin Indonesia memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 400 dolar Amerika Serikat (USD) per ton CO2 setara, jauh melampaui harga karbon konvensional yang berkisar antara USD40 hingga USD80 per ton.
“Ke depan ada bisnis yang sangat berbasis pada geospasial, tepatnya informasi geologis dari daerah kita yang bisa kita jadikan kontainer bagi CCS. Dan saya rasa Pertamina sudah mulai mengeksplorasi. Ini bisnis-bisnis raksasa, jadi Pertamina boleh jadi nanti pendapatan terbesarnya dari situ,” ungkap Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur mengakui meski investasi awal untuk proyek CCS tergolong tinggi, namun potensi return atau pengembalian keuntungan yang dihasilkan juga sangat besar, mengingat posisi geografis Indonesia yang sangat diuntungkan untuk sektor ini.
“Semoga forum ini berhasil dengan pencerahan yang bermanfaat bagi Pertamina dan masyarakat Indonesia,” pungkas Menteri LH Moh Jumhur Hidayat sekaligus membuka secara resmi Pertamina Geospasial Summit 2026.
